Alkitab merubahkan hidup

Oktober 12, 2013 Tinggalkan komentar

Sebuah ilustrasi yang luar biasa datang dari kehidupan Dr. Harry A.Ironside. Awal dalam pelayanannya, penginjil dan guru Alkitab yang besar itu tinggal di wilyaha San Fransisco Bay dan bekerja dengan sekelompok orang yang percaya disebut “Brethen.” Satu Minggu, ketika ia sedang berjalan di kota itu, ia mendatangi suatu kelompok pekerja Bala Keselamatan yang mengadakan suatu pertemuan di persimpangan market avenue dan grand avenue. Jumlahnya mungkin ada 60 org di antara mereka. ketika mereka mengenali Ironside, mereka segera bertanya kepadanya apakah ia akan memberikan kesaksiannya. Maka ia melakukannya, memberi sepatah kata tentang bagaimana Allah telah menyelamatkannya melalui iman dalam kematian jasmaniah Yesus dan kebangkitan-Nya yang harfiah.

Ketika sedang berbicara, Ironside memperhatikan bahwa di ujung kerumunan itu ada seorang pria berpakaian rapi yang telah mengambil sebuah kartu dari sakunya dan menuliskan sesuatu diatasnya. Ketika Ironside menyelesaikan pembicaraannya, orang ini maju ke depan, mengangkat topinya dan dengan sangat sopan menyerahkan kepadanya kartu itu. Di satu sisi tertulis namanya, yang segera ironside kenali. Pria itu adalah salah satu dari orang-orang sosialis awal yang menjadi terkenal karena mengajar bukan hanya sosialisme tetapi juga menentang kekristenan. Ketika Ironside membalik kartu itu, ia membaca tulisan,”Tuan saya menantang anda untuk berdebat dengan saya mengenai ‘agnostikisme versus kekristenan’ di akademi off science hall minggu siang mendatang pada pukul 4. Saya akan membayar semua biaya.”

Ironside membaca ulang kartu itu keras-keras kemudian menjawab seperti ini.”Saya sangat tertarik dengan tantangan ini…..karena itu saya akan gembira untuk menyetujui perdebatan ini dengan syarat-syarat berikut : yaitu bahwa untuk membuktikan bahwa tuan_______memiliki sesuatu yang berguna untuk diperjuangkan dan layak diperdebatkan, ia akan berjanji membawa ke hall pada minggu mendatang 2 orang, yang kualifikasi-kualifikasinya akan saya berikan sebentar, sebagai bukti bahwa agnostikisme itu memiliki nilai yang sesungguhnya dalam mengubah hidup manusia dan membangun karakter yang sejati.

 

“Pertama, ia harus berjanji membawa serta 1 orang yang selama bertahun tahun apa yang kita umumnya sebut sebagai seorang’tersisih dan terbuang.’ Saya tidak menentukan sifat dosa seperti apa yang telah menghancurkan hidup orang tersebut dan menjadikannya seorang yang terbuang dari masyarakat – apakah ia seorang pemabuk, atau seorang penjahat hal tertentu, atau seorang korban dari nafsu sensualnya – tetapi ia adalah seorang yang selama bertahun-tahun berada di bawah kuasa kebiasaan-kebiasaan yang jahat yang darinya ia tidak dapat melepaskan diri. Tetapi ia pada suatu kesempatan mengikuti salah satu pertemuan tuan_____dan mendengar pemuliaannya akan agnostikisme dan pencelaannya terhadap Alkitab dan kekristenan, dan hati serta pikirannya, ketika ia mendengarkan kepada pesan semacam itu, begitu tergerak sehingga ia pergi dari pertemuan itu sambil berkata,’mulai sekarang, akau juga seorang agnostik!’ dan sebagai hasil meminum filsafat yang khusus itu ia menemukan bahwa suatu kuasa yang baru telah masuk ke dalam hidupnya. Dosa -dosa yng pernah ia kasihi sekarang ia benci, dan kebenaran serta kebaikan sekarang merupakan ideal-ideal dari hidupnya. Ia sekarang seluruhnya seorang yang baru, suatu penghargaan bagi dirinya dan suatu aset bagi masyarakat – semua karena ia seorang agnostik.

 

“Kedua, saya ingin Tn._____berjanji membawa bersamanya seorang perempuan – dan saya kira ia akan memiliki lebih banyak kesulitan dalam menemukan perempuan itu ketimbang lakui-laki itu – yang pernah menjadi orang buangan yang malang, hancur, tidak bermoral, budak nafsu yang jahat, dan korban dari kehidupan manusia yang berdosa…mungkin orang yang telah hidup selama bertahun-tahun dari usaha yang jahat …sama sekali terhilang, rusak dan hancur karena kehidupannya. Tetapi perempuan ini juga memasuki aula di mana Tn._____ dengan keras memberitakan agnostikismenya dan mengejek Kitab Suci. Ketika ia mendengar, pengharapan, lahir dalam hatinya, dan, ia berkata,’inilah yang saya perlukan untuk melepaskan saya dari perbudakan dosa!’ Ia mengikuti ajaran itu dan menjadi seorang yang agnostik atau kafir yang cerdas. Sebagai hasilnya, seluruh keberadaanya memberontak terhadap keburukan hiudp yang ia jalani. Ia melarikan diri dari sarang ketidakbersusilaan dimana ia begitu lama terjerat;dan sekarang, setelah di rehabilitasi, ia mendapatkan jalannya kembali kepada suatu posisi yang terhormat dalam masyarakat dan menjalani suatu kehidupan yang bersih, suci, bahagia-semua adalah karena ia seorang agnostik.

 

“sekarang” kata Ironside, kepada pria yang telah meberrikan padanya kartu dan tantangannya,”jika anda berjanji membawa dua orang ini bersama anda sebagai contoh-contoh dari apa yang dapat dilakukan oleh agnostikisme, saya berjanji untuk menemui Anda di Hall of Science pada pukul 4 minggu mendatang dan saya akan membawa bersama saya sedikitnya 100 orang laki-laki dan perempuan yang selama bertahun-tahun hidup dalam keburukan dosa seperti yang telah saya coba gambarkan tadi, tetapi yang dengan mulia telah diselamatkan melalui percaya kepada injil yang anda ejek itu. saya akan membawa laki dan perempuan ini bersama saya keatas podium sebagai saksi bagi kuasa ajaib Yesus Kristus yang menyelamatkan dan sebagai bukti kebeneran Alkitab masa kini.”

Lalu Dr.Ironsie berpaling ke kapten kelompok Bala Keselamatan, yang kebetulan adalah seorang perempuan, dan berkata,”Kapten,apakah anda memiliki orang yang dapat saya bawa ke pertemuan itu?”

Si kapten berseru dengan antusiasme,”kami dapat memberi anda 40 orang setidaknya hanya dari 1 korps ini, dan kami akan memberi anda barisan peniup terompet untuk memimpin arak-arakan itu!”

“Baik,”Jawab Dr.Ironside.”Sekarang, Tn.______,saya tidak akan kesulitan mencari 60 orang lainnya dari berbagai misi, tempat-tempat pemberitaan injil, dan gereja-gereja injili di kota; dan jika anda benar-benar berjanji untuk membawa 2 contoh seperti yang telah saya gambarkan tadi, saya akan datang berjalan didepan arak-arakan, dengan Orkes yang memainkan ‘Maju Laskar Kristen,’ dan saya siap untuk perdebatan itu.”

Tampaknya orang yang telah memberi tantangan memiliki rasa humor, karena ia tersenyum masam dan melambaikan tangannya dengan cara yang mengolok seolah-olah berkata,”Tidak jadi kalau begitu!” dan kemudian menyelinap keluar dari kerumunan itu sementara orang-orang yang berdiri bertepuk tangan untuk Ironside dan yang lain-lainnya.

Kuasa Kristus yang hidup yang bekerja bersaranakan Roh Kudus melalui Firman yang tertulis ini mengubah kehidupan. Ini adalah kejadian nyata sepanjang sejarah. Itu adalah bukti yang kuat bahwa Alkitab sungguh adalah Firman Allah, sebab Alkitab bukan hanya memberitahu kita apa yang benar tetapi juga dapat mengubahkan hidup , memperbaiki kelakukan

 

Kategori:Uncategorized

Aku suka dekat pada Allah (Mazmur 73:28)

Banyak hal yang kita sukai dalam dunia ini. Kita suka dengan keindahan pantai, gunung. kita suka piknik.  Kita suka dengan gereja, kita suka dengan makanan enak, Semua hal itu baik, sebab semuanya itu merupakan pemberian Tuhan. Namun ada sebuah kesukaan yang paling tinggi yang melampuai semua rasa suka tadi. Pemazmur menyebutnya, suka dekat pada Allah. Inilah kesukaan yang paling tinggi, sebab Allah sendiri adalah kebaikan yang tertinggi. Pada waktu kita datang ke gereja, maka yang paling utama adalah ada kerinduan kita untuk dekat kepada Allah. Pada waktu kita berdoa, baca Alkitab, maka hal yang paling utama yang perlu kita ingat bukanlah permintaan kebutuhan-kebutuhan kita melainkan keinginan untuk dekat kepada Allah. Banyak orang Kristen lebih mencari berkat Tuhan daripada Tuhan sendiri. Tanpa kita sadari, kita mendekat kepada Allah bukan dengan tujuan supaya dekat denganNya melainkan dengan tujuan supaya diberi sesuatu oleh Allah. Makanya kebanyakan orang Kristen bukan mencari wajah Tuhan melainkan mencari tangan Tuhan yang diharapkan memberi berkat. Ribuan orang datang mengikuti Kristus bukan untuk dekat denganNya, tetapi untuk mendapatkan penyembuhan  dan roti. Hanya 12 orang murid yang dekat kepada Kristus karena mereka memang mau mengikuti Kristus dan dekat dengan Kristus. Kita jangan menjadi orang Kristen yang dekat denga Kristus hanya karena ada maunya. Kalau ada masalah kita baru dekat dengan Tuhan. Ketika masalah beres, kita menjauh lagi dari Tuhan. Dekatlah kepada Tuhan karena itulah kesenangan tertinggi yang bias kita miliki di dalam dunia ini. Sukacita karena dekat dengan Allah itu jauh lebih tinggi dari sukacita karena melihat pemandangan indah, atau dari sukacita karena makanan enak.

Dekat dengan Allah bisa kita lakukan dimana pun dan kapan pun. Biarawan katolik menyendiri di Biara supaya mereka bias dekat dengan Allah. Ketika kita berdoa di kamar atau datang doa pagi di gereja, itu juga merupakan sarana dimana kita mendekat dengan Allah.  Namun sebenarnya yang paling penting untuk dekat dengn Allah bukanlah tempat, tetapi hati kita. Percuma tubuh kita menyendiri tetapi hati kita dipenuh dengan kesibukan-kesibukan. Kita tetap tidak bisa dekat dengan Allah walaupun kita berada di tempat terpencil kalau hati kita belum terbuka kepada Allah. Sebaliknya, walaupun kita berada di pasar, berada di jalan, di tempat pekerjaan, namun kalau hati kita terbuka dan diarahkan kepada Tuhan, maka kita bisa mengalami kedekatan itu dengan Allah.

Kedekatan kita dengan Allah paling terasa manis ketika kita berhadapan dengan dosa dan dunia dan kita tetap tahu bahwa Tuhan ada disisi kita. Kedekatan kita dengan Allah paling indah dialami pada saat ada masalah dan kita tetap tahu bahwa Tuhan beserta dengan kita. Itulah yang namanya kemenangan Kristen. Jika tidak ada konflik atau masalah, maka tidak ada kemenangan. Namun ketika da konflik dan masalah dan kita tetap bisa dekat dengan Allah, maka ini adalah kemenangan. Habakuk mengatakan:” (Hab 3:17)  Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, (Hab 3:18)  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Ini adalah saat teragung dari berkat dekat dengan Allah, yakni bias beria-ria, bersorak-sorak walaupun masalah belum beres.

Dekat dengan Allah membutuhkan iman. Dan masalahnya adalah pada hari ini, iman itu seringkali dicemooh oleh orang. Banyak orang berpikir bahwa dating kepada Allah adalah hal yang bodoh. Pada zaman ini, iman banyak dicemooh. Dunia ini, orang-orang yang tidak percaya merupakan halangan bagi kita untuk dekat kepada Allah. Mungkin orang akan mencemooh kita karena percaya kepada Allah atau karena merasa dekat dengan Allah. Tetapi kita jangan kalah dengan cemooh itu. Dalam belas kasihan Allah, Dia akan dating dekat kepada kita dan memegang erat kita ditenga gencarnya orang menertawakan Allah. Zaman ini merupakan zaman yang berbahaya. Tetapi kita tahu bahwa Dia ada disini, Dia selalu hadir, menantikan kerinduan kita untuk membina suatu hubungan yang pribadi denganNya. Dia akan menopang kita, walau apa pun yang terjadi di dalam dunia ini. Marilah kita bersama-sama dengan pemazmur mencari Allah dengan kesungguhan dan menemukan Dia, muka dengan muka, ditengah kesukaran bumi ini-dan kita berkata seperti pemazmur: aku mencintaiMu Tuhan dan aku suka dekat pada Mu.

Salam

Pdt. Yohannis Trisfant

Kategori:Uncategorized

Kerendahan hati merupakan sebuah ciri kekristenan.

Desember 22, 2012 Tinggalkan komentar

Oleh: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

Mereka yang dipakai oleh Tuhan menjadi alat dalam kelahiran Kristus adalah orang-orang yang rendah hati. Yusuf dan Maria bukan hanya orang yang rendah dan miskin tetapi mereka adalah orang yang rendah hati. Maria adalah gadis yang rendah hati. Dalam nyanyiannya dia berkata: Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya. (Luk 1: 46-48). Yusuf adalah orang yang tulus hati, dan taat kepada Tuhan. Ketika mereka bersedia menginap di kandang domba dan tidak ngotot untuk terus mencari rumah penginapan atau rumah sahabat-atau kerabat disana, maka itu sudah menunjukkan bahwa mereka rendah hati. Tuhan tidak akan memakai orang sombong menjadi alatnya dalam melahirkan sang Juruselamat ke dalam dunia ini. Kalau Tuhan memilih Yusuf dan Maria, itu karena mereka memenuhi kualitas ini, yakni mereka rendah hati.

Tuhan Yesus sendiri adalah Pribadi yang rendah hati. Tuhan juga tidak suka dengan orang-orang yang sombong. Dalam Luk 1:52 dikatakan bahwa “ Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;” Mulai dari pemberitahuan mengenai kelahiran Yesus, sampai dengan saat lahirnya Yesus, semuanya memakai tema rendah hati.  Bahkan pribadi yang dilahirkan pun adalah Pribadi yang rendah hati. Ketika Allah lahir di tempat yang rendah menyatakan  bahwa kerendahan hati merupakan sebuah ciri kekristenan.

Bapa Gereja bernama , Agustinus mengatakan : Jika engkau bertanya kepada saya apakah hal yang utama dari ajaran kristen, maka jawaban saya adalah pertama, kerendahan hati, kedua kerendahan hati dan ketiga adalah kerendahan hati. A kempis mengatakan bahwa kerendahan hati itu perlu untuk meneladani Kristus. Kerendahan hati itu cocok dengan anugerah dan merupakan inti dari iman.

Jika kerendahan hati adalah ciri kekristenan, apakah saudara sudah rendah hati? Apakah yang saudara lakukan ketika sedang bertengkar? Banyak orang kristen ketika bertengkar yang keluar adalah adu kesombongan.

Pada suatu hari, ketika sedang bertengkar, berkatalah istri kepada suaminya, “Pak, aku bukan sombong yah …, dulu sebelum aku kawin sama kamu, banyak cowok yang datang melamarku tapi semua aku tolak, kecuali kamu.”

“Bu, aku juga bukan sombong nich …. Dulu sebelum kawin sama kamu, banyak cewek yang kulamar tapi semua menolak saya, kecuali …………..kamu yang terima saya.”

Perdebatan seringkali bukan lagi adu agumentasi, tetapi adu ego, adu kesombongan, saling menjatuhkan.  Jadikanlah kerendahan hati sebagai ciri khas sudara.

Pada waktu saudara sedang melayani, lakukanlah dengan rendah hati. Pada saat sedang ada di jalan, berkendaraan lah dengan rendah hati. Ketika berhasil janganlah memuji diri saudara dihadapan orang atau mengumumkan keberhasilanmu. Criss Jami mengatakan bahwa “ tantangan terbesar setelah sukses adalah tutup mulut mengenai kesuksesan kita. Blise Pascal mengatakan “Apakah anda ingin dianggap baik oleh orang lain? Janganlah berbicara mengenai dirimu sendiri. Inilah kerendahan hati.

Berapa sering saudara membandingkan dirimu dengan orang lain dan merasa dirimu hebat? Ini adalah kesombongan. Ini akan membuat rasa takut akan Tuhan terkikis dalam hidup kita sebab kesombongan tidak akan berhenti pada satu titik, tetapi akan terus naik dan suatu waktu Tuhan pun akan ditentangnya.

DPR : “Pak pendeta, jikalau DPR sama Menteri… hebat mana?”

Ustadz : “Hebat Bapak…. bapak Menteri gak berani perintah2 anggota DPR. DPR bisa perintah2 menteri”  [si bapak nyengir seneng]

DPR: “Lhaa… jikalau saya sama ketua KPK hebat mana”

Pendeta : “Hebat bapak DPR juga lah…. kan ketua KPK dipilih sama Bapak juga,
DPR tidak dipilih dari KPK”.  [si bapak nyengir nya makin lebar, Pendeta bener juga nih kata dia]

DPR: ” Nah ini pertanyaan di jawab dengan benar lagi nih Pendeta, jikalau saya dengan Yusuf  hebat mana?”

pak Pendeta agak mikir panjang untuk pertanyaan terakhir ini,  salah menjawab bisa2 gk pernah dipanggil lagi ke gedung DPR untuk kotbah nih…

Akhirnya pak Pendeta kasih jawaban ke bapak DPR itu

Pendeta:”Masih hebat bapak lah…. Yusuf  takut sama TUHAN,
sedangkan Bapak sudah gak ada takut-takut nya sama TUHAN”

Jawabnya sambil cepet2 kabur,
yang di tinggal nyengir2 aja ga punya perasaan

Ketika saudara  sudah berpikir untuk membandingkan diri dengan orang lain,  hebat siapa sih, saya atau dia? Itu kesombongan, bukan kerendahan hati. Perbandingan seperti ini akan terus meningkat dan akan tiba pada sebuah titik, dimana saudara tidak takut lagi sama Tuhan. Itu bukan ciri kekristenan.

Lebih hebat mana? Palungan atau istana raja? Tergantung siapa yang ada di dalam palungan dan siapa yang ada dalam istana raja. Kalau yang ada di istana raja adalah raja yang kejam, dan yang ada di palungan adalah orang yang rendah hati, maka palungan itu lebih besar daripada istana raja.

Jadi kebesaran itu bukan dilihat dari prestasi yang saudara capai dan bukan ditentukan oleh dimana saudara berada. Tetapi siapa diri saudara itu jauh lebih penting. Kalau kita rendah hati, maka disitulah kebesaran, karena itu merupakan ciri khasnya Tuhan yang Mahabesar.

Belajarlah rendah hati seperti Kristus. Ini merupakan pelajaran seumur hidup.  Pandanglah selalu ke atas, kepada Kristus agar saudara tidak punya waktu lagi untuk memandang rendah sesamamu.

Hanya orang yang rendah hati yang bisa datang kepadaNya.

Desember 22, 2012 Tinggalkan komentar

 Oleh: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

 

Pada suatu tengah malam Natal seorang wanita Yahudi mampir di sebuah penginapan di kawasan wisata mewah yang tidak menerima tamu beragama Yahudi.“Maaf, tidak ada lagi kamar. Malam ini hotel terisi penuh,” kata petugas bagian pendaftaran tamu demi mengetahui jatidiri wanita itu.“Tapi tanda di depan mengatakan masih ada kamar kosong,” tamu itu bersikukuh.Petugas pendaftaran lalu menatap mata tamunya. “Terus terang saja ya, kami sebenarnya tidak menerima tamu yang beragama Yahudi!”

Sang wanita menjawab, “Saya ingin anda tahu bahwa saya sudah pindah agama. Sekarang saya orang Kristen.”“Oh begitu? Tapi saya perlu mengetes anda dulu,” kata petugas. “Bagaimana Yesus lahir?”“Dia dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Maria di kota kecil bernama Betlehem.”“Bagus,” petugas hotel memuji. “Apa lagi yang anda tahu tentang kelahirannya?”“Dia dilahirkan di atas palungan.”“Tepat sekali,” puji petugas lagi. “Tapi mengapa Yesus sampai lahir di atas palungan?”Kali ini wanita Yahudi itu tidak bisa lagi menahan amarahnya. Diapun berkata dengan ketus:“Itu gara-gara seorang bedebah seperti kamu yang tidak mau memberi kamar menginap bagi perempuan Yahudi seperti saya! Tahu?!”

Ini hanya sebuah cerita. Alasan utama mengapa  Yesus lahir di atas palungan bukan karena adanya sentimen terhadap orang Yahudi. Itu adalah karena Allah yang menghendakiNya. Dunia memang menolak Kristus, tetapi Allah yang menetapkan AnakNya lahir di palungan. Tujuannya adalah supaya hanya orang yang rendah hatilah yang bisa datang kepadaNya.

Palungan memang adalah sebuah paradoks. Paradoks itu adalah semua orang bisa datang ke palungan, namun tidak semua orang bisa datang ke palungan tersebut. Semua orang tanpa memandang status sosial bisa datang bertemu dengan Anak Allah. Namun orang sombong tidak bisa datang bertemu dengan Anak Allah tersebut? Mengapa? Karena Dia bukan berada di istana, melainkan di kandang domba. Orang kaya mana yang yang mau berkunjung ke kandang domba? Hanya orang kaya yang rendah hatilah yang bersedia datang bersujud di kandang domba.

Orang sombong bisa datang ke gedung putih, atau ke istana negara, tetapi tidak akan bisa datang ke kandang domba untuk menyembah raja segala raja. Mereka yang sombong tidak akan mau datang ke tempat yang rendah karena untuk datang ke tempat yang rendah setiap orang mesti merendahkan diri.  Orang sombong tidak akan bisa datang kepada Allah jika tidak merendahkan diri. Pada waktu Tuhan Yesus berada di kandang, maka tidak mungkin orang kaya yang sombong mau berkunjung ke sana.

Semua orang yang mau datang kepada Kristus harus merendahkan dirinya dihadapan Tuhan. Tanpa kerendahan hati, maka tidak mungkin seseorang itu bertemu dengan Kristus. Ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi dan imam imam kepala tidak bisa datang kepada Kristus karena kesombongan. Herodes tidak bisa datang kepada Kristus di palungan, juga karena kesombongan.

Tuhan Yesus mengatakan : berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah. Artinya harus ada kerendahan hati, barulah seseorang bisa datang kepada Tuhan Yesus. Saudara mesti menyadari akan kondisimu sebagai orang berdosa yang hidup di bawah murka Allah,  yang  layak menerima hukuman, dan membutuhkan belas kasihan Allah.

Hanya kepada orang yang merasa dirinya tidak ada apa-apanya dihadapan Allah, yang rendah hatilah yang dapat diberikan kerajaan Allah. Sebab kerajaan Allah dimana Allah memerintah selaku penguasa tunggal, sangat mulia, sangat berharga, dan tidak ada yang sanggup membeli kerajaan itu dengan usaha, atau dengan apapun juga. Kita terlalu miskin untuk dapat membeli kerajaan itu. Kerajaan itu hanya diberikan secara cuma-cuma buat mereka yg rendah hati.  Kerajaan Allah hanya dapat diterima, dalam kerendahan hati seorang kanak-kanak yang tahu bahwa dirinya tidak mampu. Kerajaan itu diberikan kepada orang miskin, bukan kepada orang-orang kaya yang sombong . Kerajaan itu diberikan kepada orang lemah bukan kepada yang berkuasa, Kerajaan itu diberikan kepada anak kecil yang cukup rendah hati untuk menerimanya, bukan kepada tentara yg membual bahwa mereka dapat merebutnya dengan kajagoan mereka.

Orang yang tinggi hati tidak mungkin masuk surga. Kita mesti mengakui ketidakberdayaan, kemiskinan kita, untuk bisa diselamatkan. Syarat untuk masuk ke dalam kerajaan surgaadalah merendahkan diri dihadapan Allah, mengakui keberdosaan kita, mengakui ketidakberdayaan kita menghadapi dosa. Hanya orang seperti inilah yang bisa bertemu dengan sang Juruselamat. “sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yg bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus ttp juga bersama-sama org yg remuk dan rendah hati dan u/ menghidupkan hati org-ong yg remuk.

Hanya dengan kerendahan hatilah kita dapat menerima anugerah keselamatan. Orang yang sombong akan kehilangan berkat yang besar yang Tuhan tawarkan karena orang sombong tidak pernah bisa melihat Tuhan.

C.S Lewis mengatakan, pada waktu kita sombong, kita tidak bisa mengenal Allah. Orang yang sombong selalu melihat ke bawah, melihat kepada manusia dan sepanjang saudara melihat kebawah, saudara tidak dapat melihat sesuatu diatasmu. Akibatnya saudara tidak pernah bertemu dengan Kristus, yang berada di atas saudara.  Dan ini bukan hanya membuat hidupmu malang, tetapi juga akan melemparkan jiwamu ke dalam neraka.

Lihatlah selalu ke atas, kepada Allah, maka saudara akan rendah hati. Karena orang yang selalu melihat ke atas, tidak akan melihat ke bawah dan tidak akan menyombongkan dirinya lagi.

Lahir di Palungan membuat banyak orang dapat datang kepadaNya.

Desember 22, 2012 Tinggalkan komentar

Oleh: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh.

 

Pada tanggal 5 september 1639, di  faubourg di Paris, di istana Raja  Louis XIII., dikumpulkan seluruh bangsawan, orang – orang hebat di Prancis. Mereka sedang menantikan lahirnya putra Mahkota. Bishop atau pendeta sudah menunggu untuk membaptiskan anak raja tersebut. Tidak lama kemudian keluarlah suster membawa anak yang  anak raja yang baru lahir tersebut dan menyerahkannya kepada Raja Prancis. Dengan bangga Raja Prancis membawa bayi itu di jendela istananya. Lonceng dibunyikan dan orang-orang berteriak menyambutnya dan selama seminggu Prancis berpesta.

173 tahun kemudian, tanggal 19th of March, 1812,  terjadi kelahiran anak raja Prancis yang lain. Jika yang lahir adalah perempuan, maka 21 tembakan senjata api akan menyambutnya, tetapi jika laki-laki maka ratusan tembakan senjata api akan menyambutnya. Pada tanggal 20 maret pukul 6 pagi terdengar tembakan yang meriah. Seluruh rakyat menunggu, apakah perempuan atau laki-laki. Dan  ketika sudah terdengar tembakan yang kedua puluh dua, maka seluruh Paris bersukacita karena dinasti  Bonaparte mendapatkan putra Mahkota.

Rakyat hanya bisa melihat dari jauh Putra Mahkota yang baru lahir. Siapakah yang berani datang ke tempat kelahiran bayi di istana seperti itu? Hanya bangsawan dan kerabat dekat raja serta tamu-tamu kehormatan yang bisa melihat bayi tersebut. Sedangkan rakyat hanya  bisa melihat dari jauh kelahiran putra Pangeran.

Sangat kontras sekali dengan kelahiran Anak Allah, Raja segala raja. Tidak ada bunyi tembakan, tetapi pujian malaikat. Tidak ada sambutan kerajaan, tetapi sambutan para malaikat. Tidak ada istana, hanya ada penginapan. Tempat tidurnya pun bukan kasur yang empuk tetapi sebuah palungan, tempat makan binatang. Setiap orang bisa mendekat , melihatNya dan menyembahNya. Tidak ada penjaga yang menahan siapa pun untuk datang kepadaNya

Bayangkanlah, seandainya Allah lahir di Istana Herodes, ditengah-tengah segala kekayaan dan kemewahan istana tersebut. Tempat tidur Tuhan Yesus pasti akan sangat mewah. Para penjaga akan menjaga kamar bayi. Dalam kondisi demikian, apakah para gembala bisa datang untuk menyembahNya? Bisakah orang-orang miskin masuk untuk bertemu dengan Anak Allah? Tidak akan bisa. Yang bisa bertemu dengan Anak Allah pasti hanya orang-orang Majus saja.  Tuhan tidak memilih  istana Herodes atau rumah Imam Besar Hana,  sebagai tempat kelahiranNya, supaya semua orang dapat datang menyembahNya.

Inilah inti dari inkarnasi, yakni Kristus mengosongkan diriNya, merendahkan diriNya sangat rendah sehingga manusia dari golongan apa pun dan dengan tingkat sosial apapun dapat datang kepadaNya.

Kalau saudara merendahkan diri, mau turun ke tempat yang sangat rendah, akan banyak orang juga yang berani mendekati diri saudara untuk mendapatkan Kasih Kristus. Namun kalau saudara tidak mau merendahkan diri, maka siapa yang berani mendekati saudara? dan kalau hanya sedikit orang yang mendekati saudara, maka semakin sedikit orang yang bisa mendapatkan kasih Tuhan melalui hidup saudara. Kita akan mudah menjadi saluran berkat Allah kalau kita rendah hati. Kalau saudara menolak untuk merendahkan diri, maka saudara akan sulit menjadi saluran berkat dari Tuhan.

Kita harus berusaha agar diri kita mudah diakses oleh orang banyak.  Tuhan membuat diriNya mudah diakses, mudah didekati oleh siapapun tanpa memandang status sosialnya. Tuhan mendekatkan diriNya kepada manusia. Ini adalah teladan yang Tuhan berikan buat kita, agar kita mudah diakses, mudah di dekati oleh orang lain dan mudah mendekati orang lain. Semua ini membutuhkan kerendahan hati. Orang sombong susah dekat dengan orang lain. Dia hanya bisa dekat dengan orang yang selevel dengannya.  Orang seperti ini hanya senyum kepada mereka yang selevel dengannya. Hidup saudara tidak boleh seperti itu.

Merendahkan diri tidaklah mudah. Kita terbiasa Jaim, Jaga Image, kita bahkan meminjam topeng agar dihargai lebih dari biasanya. Kita terbiasa lebay atau berlebihan, sok jaga wibawa, sok jaga diri.  Pokoknya banyak orang kristen tidak mau terlihat rendahan. Inginnya disanjung, suka kalau orang hormat kepadanya. Wibawa ditinggiin, gengsi di gedeian.  Akibatnya apa? Orang akan segan sama kita dan kita sulit membawa orang datang kepada Kristus, karena terlalu berwibasa gitu lho. Karyawan mana yang berani ngobrol dengan boss yang seperti itu? Tetangga mana yang berani ngobrol dengan tetangga yang lebay seperti itu?

Paulus mengatakan bahwa Kristus itu lemah lembut dan ramah. ( 2 Kor 10:1). Itulah salah satu alasan mengapa banyak orang datang kepadaNya. Belajarlah bersikap ramah kepada orang lain  (2Ti 2:24).  Palungan mengingatkan kita agar menjadi pribadi dimana siapa pun bisa mendekat kepada kita. Kesombongan itu menjadi penghalang orang datang kepada Kristus. Bukan hanya kesombongan orang yang belum percaya kepada Kristus, yang menjadi penghalang, tetapi juga kesombongan kita itu menghalangi orang datang kepada Kristus. Kalau saudara rendah hati, akan banyak orang dibawa datang kepada Kristus.

PALUNGAN (Luk 2:1-7)

Desember 22, 2012 Tinggalkan komentar

 

Oleh: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh.

 Luk 2:1-7  Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.  (2)   Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.  (3)   Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.  (4)   Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud–  (5)   supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.  (6)  Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,  (7)  dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Setiap persalinan pasti meninggalkan kenangan tak terlupakan bagi sang ibu. Tak hanya rasa sakit yang harus dilewati, tapi juga situasi yang menyertai proses kelahiran itu. Seperti yang dialami beberapa ibu berikut ini, yang mungkin tak pernah menyangka akan melalui persalinan di tempat-tempat yang tidak umum. Ada yang di pohon, di restoran, bahkan di dalam lift

1.  Melahirkan di Pohon
Ini dialami oleh Cheindza, seorang wanita asal Mozambik. Kala itu, ia yang tengah hamil tua terpaksa memanjat pohon untuk menyelamatkan diri dari banjir bandang.  Empat hari di atas pohon, perutnya kontraksi dan bayinya lahir. Dalam kondisi lemah dan tali pusat bayi masih menempel di rahimnya, Cheindza akhirnya berhasil dievakuasi tim penyelamat menggunakan helikopter. Meski sempat mengalami masa kritis, Cheindza dan bayinya selamat

 
2. Melahirkan di Kantor Pos
Ini menimpa wanita asal Portugis, Sonia Marina Nascimento. Tak pernah terbayang ia akan melahirkan bayinya di kantor pos. Kala itu, ia jalan-jalan untuk membeli pulsa telepon selular di kantor pos Wisbech, Cambridgeshire. Ia mendadak mengalami kontraksi dan akhirnya melahirkan di lokasi itu setelah petugas kantor pos mendatangkan tim medis. Bayinya lahir dengan selamat. Berdasar timbangan paket yang ada, bayi itu lahir dengan berat 2,34 kilogram. Para petugas lantas berkelakar, “Berat itu setara paket kilat senilai Rp 115 ribu.”

3. Melahirkan di Pesawat Terbang
Nicola Delemere mengalami kontraksi di perutnya saat tengah dalam perjalanan udara di atas kawasan Dusseldorf, Jerman. Dalam usia kandungan masih 25 minggu, air ketubannya pecah sehingga persalinan tak bisa ditunda. Beruntung ada staf penerbangan yang cukup tahu penanganan medis, juga penumpang yang pensiunan perawat dan sopir ambulans, yang membantu proses itu.  Satu setengah jam kemudian, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Gatwick. Delemere dan bayinya segera dilarikan ke rumah sakit dan selamat. Atas insiden itu, maskapai penerbangan memberi kado tiket penerbangan gratis untuk keluarga Delemere saat usia bayi sudah memenuhi syarat.

4. Melahirkan di Lift
Peristiwa yang menimpa Heather Simola ini terjadi di lift B Carson Tahoe Regional Medical Center, Nevada. Heather sengaja ke rumah sakit setelah mengalami kontraksi hebat saat tengah makan siang bersama suaminya.  Perjalanan dari lokasi makan siang menuju rumah sedikit memakan waktu akibat lalulintas macet. Selama itu, kontraksi janin di rahim Heather terus meningkat. Setibanya di lift menuju ruang pemeriksaan, Heather sudah tak kuat menahan kontraksi dan akhirnya melahirkan di sana.

Apakah semua itu kebetulan? tidak. semuanya itu berada di dalam kedaulatan Allah. Juga bukanlah hal yang kebetulan ketika Maria melahirkan di kandang hewan. Itu pasti bukan rencana manusia. Tidak ada orang tua yang ingin melahirkan anak di kandang hewan. Maria melahirkan di kandang hewan karena itu adalah rencana Allah. Sesuatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia.

Kita tahu bahwa pada saat Maria sedang hamil, penduduk yang berada dibawah jajahan kekaisaran Romawi di suruh untuk mendaftarkan diri. Ini merupakan sebuah sensus. Sensus ini bertujuan untuk memungut pajak dan untuk memperoleh calon-calon wajib militer. Orang Yahudi dikecualikan dari wajib militer. Jadi sensus ini bagi mereka hanyalah untuk data pajak. Sensus seperti ini dilakukan setiap 14 tahun sekali. Pada saat pemerintah Romawi memerintahkan agar penduduk di sensus, saat itu Maria sedang hamil.  Seandainya Yusuf berasal dari Nazaret, maka ini tidaklah menjadi masalah buat mereka. Tetapi masalahnya adalah Yusuf berasal dari Betlehem dan setiap orang diwajibkan untuk disensus di kampung halaman mereka sendiri.  Oleh sebab itu mereka mesti pergi ke Betlehem untuk mendaftarkan diri. Pemerintah Roma tidak akan peduli dengan mereka yang sedang hamil.

Jarak antara nazaret ke Betlehem kira-kria 120 km. Bisa dibayangkan menempuh perjalanan dengan memakai keledai butuh waktu berapa lama?  Mungkin bisa berhari hari. Pada saat mereka tiba di betlehem, tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan karena saat tu sedang high season. Kondisi hari itu jauh lebih parah dari Bandung kalau liburan panjang, sebab waktu itu merupakan sensus dan semua penduduk yang berasal dari betehem akan pulang kampung.  Daripada tidur dijalan, mereka menginap di sebuah kandang hewan.  Tidur di kandang hewan tidaklah menjadi persoalan buat mereka , apalagi saat itu sedang darurat. Mungkin hanya sehari dua hari mereka menginap disitu sampai bisa mendapatkan tempat penginapan. Namun itu menjadi masalah ketika, Maria mules dan mau melahirkan. Bisa diayangkan betapa paniknya Yusuf. Saya tidak tahu siapa yang membantu persalinan itu. Apakah ada orang lain ataukah Yusuf sendiri yng membantu proses persalinan tersebut. Persalinan Maria berjalan dengan lancar dan melahirkan seorang bayi laki-laki, yakni Yesus.

Peristiwa ini bukanlah peristiwa kebetulan. Tuhan yang menghendaki hal itu terjadi. Allah yang mengarahkan Yusuf dan Maria ke Betlehem, bukan Kaisar Agustus, sebab sudah dinubuatkan sebelumnya dalam  Mikha 5:1 Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”.

Allah sudah merencanakan bahwa Tuhan Yesus akan lahir bukan hanya di Betlehem tetapi di sebuah kandang hewan.  Firman Tuhan menuliskan dalam Efesus 4:9  Bukankah “Ia telah naik” berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia turun, bukan hanya sekedar turun dan lahir di tempat yang nyaman, tetapi Ia turun sampai ke bagian bumi yang paling bawah, lahir di kandang domba. Itu adalah tempat yang paling rendah dimana Anak Allah lahir.

Di dalam kedaulatanNya, Allah bekerja dan memakai kandang domba sebagai tempat kelahiran PutraNya.  Tempat dan waktu, berada di dalam pengaturan Allah yang berdaulat. Kalau saat itu maria belum cukup waktu persalinannya, maka dia tidak akan melahirkan di Betlehem. Kalau saat itu, Maria dan Yusuf datang lebih awal, maka mereka pasti mendapatkan tempat penginapan yang baik. Tetapi semua terjadi sesuai waktunya Tuhan dan bukan waktunya manusia. Yusuf dan maria tiba tepat pada saat tidak ada lagi tempat penginapan. Persalinan Maria juga terjadi tepat pada saat mereka sedang menginap dalam kandang hewan. Akhirnya mau tidak mau, maria melahirkan dalam kandang hewan,

Inilah cara kerjanya Allah. Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan dirNya dan mengambil upa seorang hamba.  Dia turun ke dalam dunia, bukan hanya sekedar turun, tetapi turun ke tempat yang paling rendah, yaitu lahir di kandang hewan di betlehem. Dia lahir bukan dalam kandangnya kaisar Agustus. Kandang kudanya kaisar Agustnius masih lebih baik dari sebuah kamar penginapan. Tetapi  Dia dilahirkan dalam kandang sebuah penginapan yang sederhana. Tuhan turun ke tempat yang demikian rendah, di sebuah kota yang kecil dan di sebuah tempat yang tidak layak untuk ditinggali apalagi untuk menjadi tempat melahirkan.

Inilah cara kerjanya Allah dan seperti inilah juga seharusnya hidup saudara, yakni mengikuti cara kerja dari Tuhan. Kalau itu tergantung kepada pilihan saudara, pilihlah tempat yang rendah dan bukan tempat yang tinggi. Allah sanggup untuk memilih istana Agustus sebagai tempat kelahiran AnakNya, tetapi Dia tidak melakukan itu. Justru yang dipilihnya adalah kandang hewan.  Orang-orang di dunia ini, berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan tempat kehormatan, tempat yang tinggi. Masih mending kalau orangnya sanggup duduk di tempat yang terhormat itu. Kalau tidak sanggup, hanya akan menjadi bahan tertawaan dan olok-olokan.

Berbeda dengan anak-anak Tuhan. Janganlah berlomba-lomba mencari untuk duduk di tempat tinggi dan terhormat. Kalau memang tempat saudara disana, Tuhan akan menaruh saudara di tempat itu. Kalau Tuhan yang menaruh saudara di tempat itu, tidak ada satu orang pun yang bisa menghalanginya.

Salam: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

Pelayanan yang sia sia ( 2 Kor 5:11-15)

November 19, 2012 1 komentar

Oleh Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

Di dunia ini memang ada banyak tiruan atau kepalsuan.  Motor, handphone , baju, sepatu, tas, banyak tiruan. Tas yang harganya puluhan juta, ditiru dan pakai merek yang sama harganya bisa lebih murah, hanya beberapa juta. Jangankan tas, telur ayam juga bisa ditiru dan dipalsukan oleh China. sehingga ada sebuah ungkapan yang berbunyi seperti ini Manusia , alam semesta dan isinya adalah asli, dan sisanya adalah Made in China.  Artinya, banyak yang palsu di dunia ini.

Bukan hanya barang barang di dunia banyak yang palsu, tetapi juga di dalam gereja juga banyak kepalsuan terjadi bahkan di dalam pelayanan. Padahal pelayanan itu  khan  bukan made in China. Pelayanan adalah made in Jesus Christ.

Pada waktu saudara melayani Tuhan, betulkan yang saudara layani adalah Tuhan? Ataukah diri sendiri  yang sedang kita layani. Orang yang dimotivasi untuk memuliakan diri sendiri dalam pelayanan, tidak sedang melayani Tuhan,  melainkan melayani kepentingannya sendiri. Ini adalah pelayanan yang palsu, sebuah pelayanan yang sia-sia

Kita tentu ingin agar pelayanan yang kita lakukan adalah sebuah pelayanan yang sejati. Kita tentu ingin agar hidup kristiani yang kita jalani adalah sebuah kehidupan kristiani yang sejati juga. Kita tentu ingin agar kewajiban agama yang kita jalani, baik itu doa, puasa, memberi persembahan, menolong orang miskin, adalah kewajiban agama yang tidaklah dibungkus oleh kemunafikan.

Bagaimana supaya kehidupan agama kita,  pelayanan kita tidak menjadi sia-sia? Ada dua hal yang mesti memotivasi kita dalam melakukan pelayanan dan semua kehidupan bergama kita

Pertama, Takut akan Tuhan

Paulus mengatakan dalam 2 Kor 5:11 kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Takut akan Tuhan ini bukanlah sebuah teror atau ketakutan.  Misalnya saudara sedang berada di Mall, dan tiba-tiba ada gempa bumi, lalu kita lari dengan penuh ketakutan. Bukan takut yang seperti itu. Takut yang seperti itu membuat kita kabur dari Tuhan. Takut yang seperti itu dialami oleh orang-orang berdosa yang belum percaya kepada Kristus. Ketika tiba hari penghakiman, mereka yang tidak percaya sangat ketakutan kepada Kristus dan berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: “Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu.”  Bukan seperti itu takut yang dimaksud oleh Paulus. Takut akan Tuhan bukanlah ketakutan, melainkan rasa hormat kepada Tuhan yang kita kasihi dan layani. Charles lamb mengatakan:

“Jika Shakespeare datang ke dalam ruangan ini, kita akan bangkit untuk menyambutnya, tetapi jika Pribadi itu (Yesus)- datang ke dalam ruangan ini, kita semua akan tersungkur dan berusaha mencium jubahNya

Hal inilah yang memotivasi paulus dalam melayani Tuhan, yakni  hati yang takut, hormat akan Allah.

Mengapa harus dimotivasi oleh takut akan Tuhan ketika melayani? karena kelak Tuhan akan memperhitungkan pelayanan kita. Kita mesti mempertanggungjawabkan pelayanan kita kepadaNya.  Ayat 11 ini mesti ditafsirkan berkaitan dengan ayat sebelumnya yakni 2 Kor 5:10, yang berbunyi seperti ini:

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.   Ayat ini mengatakan kita semua, yakni orang-orang kristenharus menghadap takhat pengadilan Allah.

Semua pelayan Tuhan mesti mempertanggungjawabkan hidupnya, pelayanannya dihadapan Tuhan.   Oleh sebab itulah Paulus memiliki sebuah kesadaran yang dalam tentang rasa hormat yang seharusnya ada dalam hati setiap pelayan Tuhan. Paulus sadar bahwa  kelak dia mesti mempertanggungjawabkan pelayanannya dihadapan Tuhan.  Ini membuat Paulus menaruh rasa hormat dan takut kepada Tuhan sehingga dia memperlakukan pelayanannya dengan sangat serius. Paulus pernah mengatakan ini sebelumnya dalam 1 Kor 7: 1 bahwa

“setiap orang kristen  harus menyempurnakan kekudusan dalam takut akan Allah”.

Rasul Petrus mengatakan hal juga tentang adanya penghakiman Allah ini, dalam 1Pet 4:17

“Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?

Pertanggungjawaban hidup kita dan pelayanan kita juga ditegaskan oleh Penulis kitab Ibrani dalam Ibr  4:13

Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Hal yang penting dalam pelayanan, bukan lamanya saudara melayani dan berkorban atau besarnya jumlah pengorbanan itu, melainkan kualitas dari pengorbanan itu.  Kualitas disini bukan bagus atau tidaknya pelayanan saudara,  melainkan apa motivasi pelayanan saudara. Tuhan Yesus memberikan peringatan ini bahwa pada hari penghakiman kelak akan terjadi seperti ini: ” banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”(Matius 19:30).  Orang yang terdahulu tentu lebih banyak kuantitas pengorbanannya daripada yang terakhir. Kalau penilaian berdasarkan kepada kuantitas pengorbanan, maka mereka yang terdahulu tidak akan bergeser posisinya menjadi yang terakhir. Tetapi karena penilaian bukan semata dari kuantitas pengorbanan, maka saudara  mesti hati-hati karena bisa saja saudara yang kelihatannya telah banyak berkorban akan menjadi yang terakhir.  A.B.Bruce dalam bukunya  Training of the twelve, mengatakan bahwa nilai dari sebuah pekerjaan dari para pelayan-pelayan Tuhan, bukan hanya dinilai dari kuantitasnya tetapi kualitasnya, yakni spirit atau motivasi dimana pekerjaan itu dilaksanakan. Walaupun banyak hal yang saudara lakukan tetapi kalau dilakukan dengan motivasi salah, maka nilainya tetaplah kecil. Saudara bisa jatuh ke dalam motivasi yang salah dalam pengorbanan mu kepada Tuhan. Saudara yang berkorban demi Kristus berada dalam bahaya jatuh ke dalam  perasaan bahwa diri saudara hebat. Saudara menganggap diri sudah heroik untuk Tuhan akan bisa jatuh ke dalam kesombongan dan rasa puas diri. Kesombongan rohani seperti ini dapat menimpa setiap orang kristen dalam pengorbanannya untuk Kristus.  Ada juga yang berkorban untuk meningkatkan harga dirinya. Dirinya giat melayani, supaya terkenal, dihormati dan nilai dirinya akan meningkat  Jadi orang-orang ini sudah bukan lagi berkorban untuk Kristus melainkan berkorban untuk dirinya sendiri. Motivasi-motivasi yang salah seperti itu akan merusak kualitas pengorbanan kita dan pelayanan akan sia-sia, karena pada hari penghakiman kelak, Tuhan tidak menganggap berarti pelayanan kita.

Kalau saudara memiliki motivasi takut akan Tuhan dalam pelayanan, maka saudara akan konsisten atau tahan uji dalam pelayanan saudara. Ini dialami oleh Paulus. Selama ini Paulus melayani dengan hati takut akan Tuhan, namun orang-orang kristen di korintus meragukan pelayanannya. Kerasulannya diragukan oleh jemaat Korintus, demikian juga integritasnya. Itulah sebabnya Paulus mengatakan dalam ayat 11 bagian b,

“kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang.”

Istilah meyakinkan orang ini, adalah meyakinkan orang-orang kristen di Korintus akan integritasnya, dimana dia melayani Tuhan dengan hati yang takut akan Allah.

Selama ini, Paulus memiliki hati nurani yang murni dihadapan Allah.  Dia berkata bahwa “hati kami nyata dengan terang bagi Allah”. Artinya, dia telah melayani Tuhan dengan hati nurani yang tulus, dengan motivasi yang benar, yakni dengan hati yang takut akan Tuhan. Namun Paulus juga berharap bahwa orang-orang kristen di Korintus juga melihat akan murninya motivasi Paulus dalam pelayanan, sehingga dia mengatakan dalam ayat 11 , “aku harap hati kamu nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu”.  Paulus disini menegaskan bahwa Allah mengetahui tentang dirinya, pelayanannya yang sepenuh hati dan tidak ada kemunafikan. Motivasinya melayani tulus, yakni takut akan Allah, walaupun hal ini tidak dilihat oleh orang-orang kristen di Korintus. Ini membuat dia tetap tahan uji dalam pelayanannya, walau bagaimana pun perlakuan dan pandangan beberapa jemaat korintus kepadanya

Terkadang kita sudah melayani Tuhan dengan baik, tetapi rekan-rekan pelayanan kita meragukan integritas kita. Mereka masih mempertanyakan motivasi kita. Merekatidak bisa menerima pelayanan kita. Mereka menuduh kita mencari popularitas. Mereka mencela pelayanan kita. Saudara tidak perlu kecil hati kalau mengalami kondisi seperti itu. Satu hal yang perlu saudara koreksi dihadapan Tuhan dengan jujur adalah, apakah saudara melayani Tuhan dengan hati yang takut akan Dia? atau memang dengan motivasi yang tidak tulus seperti yang dituduhkan oleh orang lain kepada saudara.

Kalau saudara memiliki hati yang takut ,  atau hormat kepada Tuhan, maka saudara tidak akan kuatir dengan apapun yang orang lain katakan kepada diri saudara. Saudara tidak akan kuatir dengan apa yang mereka pikirkan tentang saudara. Saudara akan  persiapan baik-baik untuk pelayananmu bukan lagi untuk mendapatkan pujian dari manusia tetapi karena dimotivasi oleh hati yang takut akan Tuhan.  Kita harus menjadi pelayan yang menyenangkan hati Tuhan dan bukan mencari pujian dari manusia. Paulus lebih memperhatikan apa yang Allah pikirkan daripada apa yang manusia pikirkan mengenai dirinya. Inilah yang harus kita miliki yakni lebih memperhatikan apa yang Tuhan pikirkan mengenai kita daripada apa yang manusia pikirkan mengenai diri kita.

Kalau motivasi saudara dalam melayani adalah mencari pujian, maka ketika pelayanan saudara dicela, saudara akan marah dan mungkin bisa mundur dari pelayanan.

Dalam pelayanannya, Paulus tidaklah mencari pujian. Dia berkata dalam ayat 12, dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada kamu, atau dalam BIS dikatakan :  “Dengan ini kami tidak minta supaya kalian memuji diri kami”.  Paulus hanya ingin menunjukkan sebuah teladan yang baik dalam pelayanan supaya jemaat Korintus bisa membedakan manakah pelayan yang sejati dan mana yang palsu. Supaya mereka bisa menilai, mana pelayan yang hanya mementingkan penampakan luar dan mana pelayan yang mementingkan sifat dalam batin. Pelayanan Paulus yang dimotivasi takut akan Tuhan membuat dia melayani  bukan lagi untuk dirinya sendiri atau untuk  memberikan kesan kepada manusia, tetapi untuk   menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadanya (Kis 20:24)  dan taat  kepada penglihatan yang dari sorga. (Kis 26:19). Kemuliaan Paulus ada dalam hatinya dan bukan dalam penampakan luar, atau penampilan. Kemuliaan Paulus ada dalam hati yang takut akan Allah dan bukan pada pujian manusia. Paulus mengfokuskan diriNya kepada Kristus sendiri yang adalah Terang dan Kebenaran dan bukan kepada pujian manusia, bukan untuk dilihat oleh orang melainkan oleh Tuhan

Orang Yahudi itu memiliki tiga tiang kesalehan, yakni sedekah, puasa dan doa. Namun mereka melakukan ketiga tiang kesalehan ini dengan motivasi yang salah yakni supaya dilihat oleh orang.  Mereka memberikan  sedekah, berpuasa dan berdoa  supaya dipuji oleh orang.  Namun dalam pandangan Tuhan Yesus, Kemurahan hati itu tidak cukup, doa itu juga tidak cukup, puasa juga tidak cukup, yang diutamakan adalah  motivasi, atau alasan-alasan yang tersembunyi dalam lubuk hati manusia ketika melakukan tiga tiang kesalehan itu.  Semua kesalehan kita bahkan pelayanan kita akan kehilangan arti sama sekali kalau kita haus akan pujian dan penghargaan manusia.  Bagi orang-orang yang berusaha dipuji orang, Yesus berkata bahwa “  mereka sudah mendapat upahnya. ( Mat 6:2).  “ Perkataan yang diterjemahkan dengan kata “sudah” (aphecho) adalah suatu istilah teknis yang zaman itu berlaku dalam transaksi-trnsaksi dagang, artinya telah menerima impas sejumlah uang dan memberikan tanda terimanya”. Demikianlah upah orang munafik yang mencari pujian untuk dirinya sendiri.   Mereka sudah  memiliki secara penuh apa yang menjadi haknya. Ini berarti bahwa seseorang yang telah menerima haknya maka dia tidak berhak atas yang lain lagi.

Jadi orang yang melayani Tuhan, atau melakukan kewajiban agamanya untuk mendapatkan pujian, telah menerima haknya berupa pujian dari manusia dan dia tidak berhak lagi untuk menerima upah dari Allah.   Kalau saudara melayani untuk mendapatkan pujian, maka hanya pujian yang saudara dapat. Tuhan tidak akan memberikan upah yang lain. Padahal Tuhan berjanji, bahwa mereka yang melayaniNya akan diberikan upah berlipat ganda baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.

Singkirkan keinginan untuk dipuji dalam pelayanan. Lakukanlah pelayanan saudara  dan semua kegiatan agama kita bukan untuk mendapatkan pujian melainkan karena takut akan Allah mengisi hati saudara. Inilah yang menjadi motivasi kita dalam pelayanan. Walau bagaimana bentuk tanggapan orang lain terhadap pelayananmu, layanilah Tuhan dengan hati yang takut akan Dia.

Motivasi yang seperti ini dalam pelayanan, dimiliki oleh Paulus dalam segala keadaan. Dia mengatakan dalam ayat  2 Kor 5:13   Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah dalam pelayanan Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah untuk kepentingan kamu.

Pada waktu Paulus tidak menguasai diri artinya bukan dalam keadaan emosi sepertri kita yang kalau marah tidak bisa menguasai diri. Tidak menguasai diri dalam ayat 13 ini adalah berada dalam sebuah penglihatan seperti yang dialaminya ketika dia diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga ( 2 Kor 12:2), dan pada waktu menguasai diri adalah dalam pelayanan sehari harinya bersama dengan jemaat.  Dalam kondisi yang apapun, baik itu ketika mendapatkan penglihatan maupun ketika biasa-biasa saja, paulus tidaklah memegahkan hal-hal lahiriah. Baik itu ketika Paulus mengalami keadaan rohani yang luar biasa ataupun ketika melakukan pelayanan yang nampaknya biasa-biasa, Paulus tidak  memuliakan dirinya dalam pelayanan. Paulus tetap dimotivasi oleh hati yang takut dan hormat kepada Allah.

Mempertahankan motivasi yang benar dalam pelayanan tidaklah mudah. Pada saat kita hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja dalam gereja, masih mudah untuk melayani dengan motivasi yang murni. Namun ketika kita mendapatkan banyak kehormatan dalam pelayanan, maka itu merupakan cobaan yang berat untuk tetap punya motivasi yang benar dalam pelayanan.

Dr. G. Campbell Morgan seorang pengkotbah yang terkenal memberikan sebuah kesaksian seperti ini. suatu hari dia menerima panggilan untuk melayani Tuhan full time dan meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang guru. Pada malam itu dia berlutut dihadapan Tuhan dan yakin dia mendengarkan sebuah perkataan Tuhan seperti ini,

“Morgan, saya akan memakaimu untuk melayani dalam pemberitaan firman Tuhan. Apakah kamu mau menjadi seorang pengkotbah besar ?  atau mau menajdi hambaKu? “

Pikiran pertama yang ada di kepala Morgan adalah:………….Saya mau menjadi pengkotbah besar…….tetapi kenapa Tuhan bertanya seperti ini: Apakah mau menjadi pengkotbah besar ATAU mau menjadi hamabaKu?  Lalu  Morgan menjawab:

“Mengapa saya tidak bisa menjadi hamba sekaligus pengkotbah besar?”

Malam itu dia bergumul di hadapan Tuhan, dan akhirnya dia sampai kepada sebuah keputusan: Tuhan, saya  lebih memilih menjadi hambaMu daripada menjadi yang lain. Tuhan pun menjadikan morgan bukan hanya sebagai hambaNya tetapi sebagai seorang pengkotbah besar. Seringkali kita mengisi diri kita dengan sebuah ambisi  dan berkata: “Tuhan, saya mau menjadi hambamu,  melayanimu, pakailah saya sesuai kehendakmu. Namun kita juga mencari hal-hal yang besar untuk diri kita. Ingat apa yang Tuhan katakan kepada Barukh, hamba nabi Yeremia:” dalam Yer 45:5   Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!

Apakah yang seharunya kita cari dan yang memotivasi kita dalam pelayanan? Menjadi hamba yang takut akan Tuhan, menyenangkan hati Tuhan senantiasa karena suatu waktu kita mesti mempertangungajwabkan pelayanan kita di dalam penghakiman Allah.

Kedua, Hal kedua yang memotivasi pelayanan kita adalah kasih kristus.

Orang bilang cinta itu buta. Sekali jatuh cinta apapun yang kita lihat jadi baik. Tai kambing rasa coklat.

Tapi ternyata ada sebuah fakta baru, yakni cinta itu tidak tuli. Kenapa demikian?

Ya, karena cinta bisa membedakan mana suara Honda Beat dan mana suara Honda Jazz

Yang dipilih pasti honda jazz. Cinta bisa mendengarkan mana pria yang naik hinda Beat dan mana yang naik honda jazz. Cinta itu tidak tuli.

Saya yakin bahwa kita juga tidaklah tuli dan bahkan tidak buta terhadap kasih Kristus. Saya yakin kita semua tahu dan telah mengalami betapa panjang, tinggi, lebar dan dalamnya kasih Kristus. Paulus mengalami ini dan kasih Kristus itulah yang memotivasinya dalam pelayanannya.

Paulus mengatakan ini dalam 1 Kor 5:14  Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.  (15)   Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.  

Inilah hal terbesar kedua yang memotivasi dan mempengaruhi pelayanan Paulus, yakni kasih Kristus menguasaiNya. Beberapa terjemahan bahasa Inggris menerjemahkannya secara berbeda. Ada yang menterjemahkan :

  •  Kasih Kristus mendesak kami
  • Kasih Kristus memaksa kami,
  • Kasih Kristus meminta kami,
  • Kasih Kristus membanjiri kami,
  • Kasih Kristus memegang kami.

Kasih Kristus yang mendesak, memaksa, meminta, membanjiri, memegang  Paulus dalam pelayanannya. Paulus benar-benar dikuasai oleh Kasih Kristus sehingga Paulus hidup bagi Kristus, seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam Gal 2:20

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Paulus di kontrol oleh Kasih Kristus, bukan oleh kasihnya kepada Kristus, karena kasihnya kepada Kristus terbatas. Namun Kasih Kristus itulah yang terus menyalakan kasihnya kepada Kristus. Itulah sebabnya Paulus mengatakan dalam  Fil 1:21  Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Dia bersedia kehilangan segala sesuatu untuk kepentingan Kristus. Itulah sebabnya ambisi Paulus adalah mengenal Kristus (Fil 3:7-8). Di dalam Kristus, sang penebus dan Tuhan, dari situlah keluar mengalir pelayanan Paulus.  Paulus menyatakan bahwa Kasih Kristuslah yang mengontrol dirinya. Sangat berebda dengan guru-guru palsu yang ada di Korintus. Mereka tidaklah dimotivasi oleh kasih Kristus melainkan oleh ambisi mereka sendiri

Kesadaran akan kasih Allah yang tidak berubah yang dinyatakan melalui pengorbanan dan kematian Kristtus, adalah sebuah motivasi yang sangat besar dalam pelayanan kita.  Saudara dikasihi oleh Kristus dalam segala kekurangan dan keberdosaan saudara. Hal ini jika disadari akan mendorong saudara  untuk membalas cinta kasih Tuhan kepada karena ada kasih Kristus dalam hati saudara.  Kita akan melakukan pelayanan kita dengan sukacita dan bukan karena keterpaksaan. Kita tidak lagi merasa terpaksa oleh karena manusia, tetapi kita dipaksa oleh kasih Kristus. Dipaksa oleh kasih kristus berbeda dengan dipaksa oleh manusia. Kalau terpaksa oleh manusia, kita akan melakukanya dengan enggan dan dongkol, karena kita merasa segan dengan dia. Tetapi kalau dipaksa oleh kasih Kristus, di dorong oleh kasih Kristus, maka  kita akan lakukan itu dengan sukacita karena kita sudah merasakan kasih yang panjang, lebar dan dalam dari Kristus. Di dorong oleh Kasih Kristus akan membuat saudara melayani dengan sukacita.

Kasih Kristus lah yang menjadi motivasi paling tinggi dalam pelayanan orang kristen dan bahkan dalam seluruh hidupnya. Jika kasih Kristus yang menggerakkan kita, maka tujuan kita melayani adalah berusaha meresponi kasih Tuhan kepada kita dan  bukan dengan tujuan untuk barter dengan Tuhan atau mendapat hadiah dari Tuhan.  Inilah yang menjadi dasar utama sebuah pelayanan, yakni kasih Kristus.  Jika saudara tidak memahami ini, maka ketika saudara melayani Tuhan, saudara menganggap seolah-olah Tuhan berhutang budi kepada mu dan Dia harus membayar hutang budi itu. Padahal kitalah  yang berhutang kepada Tuhan dan harus membayarnya walaupun tidak mungkin bisa terbayarkan.

Jangan menjadikan Pengorbanan, pelayanan kita menjadi sebuah barter dengan berkat-berkat Tuhan, karena nilai barternya sendiri tidaklah sesuai.

Petrus pernah bertanya kepada Tuhan Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh”? (Matius 19:27).   Petrus mungkin berpikir: ”saya sudah meninggalkan perahu, meninggalkan jala, meninggalkan pekerjaan untuk mengikuti Yesus, lalu apa yang saya akan peroleh”?  Tuhan Yesus menjawab dalam Matius 19:28-29 bahwa mereka akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. (Matius 19:28-29).

Tuhan berjanji akan memberikan imbalan seratus kali lipat dari pengorbanan murid-muridNya. Kalau saudara berdagang pada hari ini, berapa persen keuntungan yang anda akan peroleh? Seratus kali lipat? Kalau anda memiliki modal, satu juta rupiah, apakah saudara bisa mendapatkan keuntungan seratus kali atau seratus juta rupiah? Bila dengan modal satu juta rupiah, kita bisa mendapatkan keuntungan 1 juta, maka itu sudah sangat besar. Pedagang yang bisa menghasilkan satu kali lipat keuntungan sudah sangat hebat. Namun dalam pekerjaan Tuhan, ternyata Tuhan memberikan janji bahwa kita akan mendapatkan imbalan seratus kali lipat. Bukankah ini luar biasa? Siapa yang tidak mau berkorban kalau jaminan baliknya akan menjadi seratus kali lipat? Dan yang memberikan janji bukanlah penipu, melainkan Tuhan sendiri.

Apakah makna dari janji Tuhan ini kepada mereka yang sudah berkorban? Maknanya adalah bahwa kita tidak layak menerima janji itu. Janji Tuhan itu menggambarkan kemurahan Tuhan. Tuhan itu tidak hitung-hitungan dengan pengorbanan kita. Kalau Tuhan mau hitung-hitungan maka berapa besarkah pengorbanan Petrus? Petrus hanya berkorban satu atau mungkin dua buah perahu. Petrus hanya berkorban meninggalkan pekerjaannya. Apakah itu pantas dihargai seratus kali lipat? Dan apakah pengorbanan itu pantas dihargai dengan kedudukan tinggi dalam kerajaan Allah? Dan apakah pengorbanan itu pantas dihargai dengan hidup kekal? Sama sekali tidak pantas!. Janji Tuhan ini menunjukkan betapa murah hatinya Tuhan terhadap orang kristen yang melayaniNya. Dia tidak pernah meremehkan pengorbanan saudara. Dia bahkan seolah-olah suka menjadikan diriNya sebagai orang yang berhutang kepada pelayan-pelayanNya. Dia membesar-besarkan nilai perbuatan baik kita. Dia terlalu menghargai tinggi pengorbanan kita dan menjanjikan hadiah yang tak terkira besarnya.

Apakah layak sebagai pelayan-pelayan Tuhan, kita masih termotivasi untuk barter dengan Tuhan dalam pengorbanan kita? Padahal Tuhan sendiri tidaklah barter dengan kita. Kalau barter, nilainya hanyalah satu banding satu. Tetapi ini bukan barter, karena nilainya  “satu banding seratus”, bahkan  “satu banding sejuta”  Ini merupakan anugerah. Oleh karena itu, salah besar, jikalau kita melayani dan berkorban bagi Tuhan karena ingin berter dengan Tuhan.

Layanilah Tuhan dengan ketaatan tanpa mengharapkan hadiah. Berilah persembahan kepada Tuhan dengan ketaatan tanpa mengharapkan hadiah. Persembahan bukan untuk memancing berkat Tuhan. Kalau kita hidup kudus, maka lakukanlah itu bukan karena ingin mendapatkan hadiah dari Tuhan.  Kasihilah sesamamu tanpa mengharapkan hadiah dari Tuhan.  Lakukanlah semua itu karena di gerakkan oleh kasih Kristus yang menguasaimu.  Pelayanan saudara akan menjadi sia-sia jika saudara dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri. Tetapi jika saudara dimotivasi oleh takut akan Tuhan dan oleh Kasih Kristus, maka pelayanan saudara tidak akan pernah sia-sia.

Tuhan pasti akan menghargai pelayanan yang dilakukan oleh hamba-hambaNya. Charles Hodge mengatakan bahwa alkitab mengajarkan kepada kita tentang kebahagiaan dan berkat orang percaya pada masa yang akan datang. Mereka yang mengasihi sedikit akan sedikit juga melakukan dan mereka yang sedikit melakukan akan sedikit juga menikmati. Artinya orang Kristen yang sedikit mengasihi Tuhan, pasti akan sedikit juga melayani Tuhan dan mereka yang sedikit melayani Tuhan akan sedikit juga menikmati berkat Tuhan. Thomas Guthrie berkata bahwa bumi ini untuk bekerja sedangkan sorga untuk mendapatkkan hadiah, hidup ini untuk peperangan sedangkan kelak untuk mendapatkan mahkota.

Salam: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

Kategori:Kotbah Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.