Arsip

Archive for Februari, 2011

Hamba Tuhan dan membaca (1 Tim 4:13, 2 Tim 4:13)

Februari 26, 2011 Tinggalkan komentar

Dasar Alkitab

Kitab Amsal mengajarkan bahwa tidak memiliki hikmat sama dengan tidak mengenal Allah (30:3). Seseorang yang memiliki melebihi memiliki perak, emas, permata (16:16).

Paulus menasehati Timotius agar tekun membaca, dan memakai karunia-karunianya. Bacaan yang dimaksud aalah tentunya kitab suci, doktrin, dan membaca buku-buku yang lain. Paulus bukan hanya mendorong Timotius melakukan itu, tetapi dia sendiri adalah seorang yang sangat senang membaca. Bahkan diakhir hidupnya, Paulus menginginkan agar kitab-kitabd an perkamen yang dimilikinya dibawa kepadanya oleh Timotius ( 2 Tim 4:13). Dia nampaknya ingin menghabiskan hidupnya dnegan terus membaca buku-buku yang dimilikinya. Kitab-kitab yang diminta oleh Paulus untuk dibawa adalah buku-buku, tafsiran-tafsiran, kitab para nabi dan buku-buku penyair kafir yang dimilikinya.

Mengapa?

Dampak negatif jika tidak membaca

Rasul yang besar ini memiliki kerinduan yang sangat besar untuk membaca. Ini seharusnya menjadi contoh bagi hamba-hamba Tuhan juga untuk memiliki kerinduan membaca buku-buku. Jika kita tidak membaca maka kita bisa terjebak dan menjadi orang yang anti intelektual. Seorang yang anti intelektual akan mengatakan bahwa rasio tidaklah penting, iman itu lebih penting daripada rasio dan belajar itu tidak perlu dilakukan oleh orang-orang kristen. Konsep seperti ini sulit diterima, karena bagaimana mungkuin seseorang bisa beriman jika akal budinya tidak terlebih dahulu diterangi oleh firman Tuhan? Bagaimana mungkins eseorang dapat percaya kepada Kristus, jika dia tidak mendengarkan firman terlebih dahulu dan memahami firman itu? Bukankah iman timbul dari pendengaran dan pendengaran akan firman Kristus? Hal ini pasti melibatka rasio untuk memikirkan dan menggumulkan firman tersebut sehingga dia mengambil keputusan untuk percaya.


Bila kita tidak memiliki sebuah keinginan untuk memakai rasio kita dengan membaca buku-buku bermutu, maka kita sesungguhnya telah berdosa kepada Tuhan. Tuhan Yesus memberikan perintah agar mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan akal budi (Mat 22:37). Bila kita hanya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa saja, maka apakah ini dapat dikatakan sudah sepenuhnya mengasihi Tuhan? Tentunya belum. Mengasihi Tuhan sepenuhnya, tatkala kita mengasihinya juga dengan akal budi, yakni memakai rasio kita untuk mengenalNya lebih dalam, mempelajari firmanNya, mempelajari ciptaanNya.

Akibat dari dosa ini adalah penafsiran kita atas kitab suci menjadi dangkal. Kita menafsirkan seenaknya saja. Salah satu contoh adalah ketika terjadi perang teluk, seorang bernama John F. Walvoord, menuliskan sebuah buku bahwa inilah akhir zaman. Buku itu laku keras, tetapi kenyataannya mempermalukan orang kristen karena ternyata itu bukan akhir zaman. Betapa banyak kotbah-kotbah yang dangkal disampaikan karena tidak mau membaca buku-buku yang bermutu.

Akibat lain daripada dosa tidak mau membaca buku adalah orang kristen dan termasuk kita hamba Tuhan tidak memiliki peran di dalam masyarakat. Peran intelektual saat ini dalam dunia banyak dimainkan oleh orang-orang non kristen. Dimanakah intelektual kristen saat ini, seperti yang pernah ada pada abad-abad reformasi?

Malas membaca bukan hanya akan membuat kita menjadi anti intelektual, dan berdosa kepada Tuhan, tetapi juga akan membuat kita bisa terjerumus menjadi bidat Intelektual. Salah satu contohnya adalah doketisme. Aliran sesat ini membawa ide gnostis ke dalam gereja. Dan ada orang-orang kristen yang beranggapan bahwa akrena dunia ini bukan rumahku, maka saya tidak perlu mempelajari dunia ini, tidak perlu mempelajari lingkungan, psikologi, manusia, budaya dll.

Dampak yang negatif dari kemalasan membaca buku bukan hanya sekedar itu, namun juga berdampak kepada sebuah pandangan bahwa Alkitab tidak memberikan jawab atas persoalan-persoalan yang dihadapi oleh jemaat. Kita tidak mampu mengaplikasikan kebenaran Alkitab ke dalam masalah dan kehidupan jemaat. Kita tidak mampu mengaplikasikan kebenaran Alkitab ke dalam masalah sosial, politik , ekonomi dll.


Dampak positip dari membaca

Membangun kerohanian kita. Pada saat kita membaca buku-buku yang bermutu, ini akan membuat kita memiliki pemahaman yang benar. Pemahaman yang benar akan memberikan tingkah laku yang benar. Memang tidak semua orang yang memiliki pemahaman yang benar tindakannya juga benar. Tentu ini sangat bergantung kepada ketaatan kita kepada pemahaman yang kita miliki. Namun pemahaman yang salah, karena kurang membaca, akan berdampak lebih buruk daripada pemahaman yang benar. Alasannya adalah pemahaman yang salah tidak mungkin menghasilkan tingkah laku yang benar. Pemahaman yang salah hanya membuat kita menjadi buruk. Jadi membaca memiliki dampak membangun kerohanian kita.

Bertekun dalam membaca juga akan mengambangkan gaya kita dalam berkotbah, mengajar, menulis. Tekun membaca akan membuat kita memperoleh banyak keterangan dan bersekutu dengan orang-orang besar yang telah menulis buku-bukunya yang bermutu.

Membaca bagi hamba Tuhan jangan hanya terbatas pada saat sedang memepersiapkan kotbah. Tetapi jadikanlah itu kebiasaan dan disiplin. Bukan hanya doa yang kita lakukan dengan disiplin melainkan juga membaca buku.


Kategori:Uncategorized

HARGA DAN KEINDAHAN DARI KETAATAN (Kej 6: 9-22)

Februari 21, 2011 8 komentar

Ketika saya mencari di internet mengenai kata ketaatan, maka kata yang paling populer yang paling sering di search di google adalah ketaatan anjing dalam bahasa Inggris. ketaatan anjing sangat banyak disearch sampai 90.500/bulan. rupanya anjing itu paling diakui ketaatannya oleh manusia. Sampai sampai pelatih agar anjing taat juga banyak dicari. sedankan ketaatan kristen sangat sedikit disearch, hanya 1300 /bulan. Ini berarti ketaatan seekor anjing lebih populer dibandingkan ketaatan seorang Kristen. Ataukah orang menganggap bahwa ketaatan itu adalah sesuatu yang rendah hanya miliknya anjing?

KETAATAN memang adalah barang langka di tengah masyarakat. ketaatan terhadap aturan penerbangan rendah, sehingga seringkali terjadi kecelakaan peswat. ketaatan terhadap oeraturan lalu lintas juga rendah sehingga sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Ketaatn bawahan kepada pimpinan juga rendah sehingga akhirnya banyak pengangguran. “Ketaatan” merupakan kata yang sering didengungkan, tetapi sekaligus kata yang langka untuk dilakukan. Misalnya, Dirjen pajak telah mengeluarkan motto: “Orang bijak taat pajak.” Namun faktanya masih sedikit wajib pajak yang melaksanakan kewajibannya untuk membayar pajak; bahkan sejumlah orang tertentu harus berurusan dengan hukum karena tidak taat membayar pajak. Demikian pula mereka yang mendengungkan untuk taat kepada peraturan pemerintah (misalnya, pemberantasan korupsi), tetapi merekalah yang tidak mentaatinya (justru korupsi). Nampaknya, dalam kehidupan masa kini “ketaatan” hanyalah kata klise saja, yang dianggap sebagai gaya hidup yang tidak mendatangkan keuntungan apapun. ketaatan kepada pemerintah saja saja rendah apalagi ketaatan kepada Tuhan.

Ketaatan manusia kepada Tuhan pada zaman nabi Nuh juga sangatlah rendah. Hal ini terjadi pada zamans ekarang maupun zaman dulu. Kejadian 6: 11,12 dikatakan bahwa adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. (12) Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Sudah tidak ada lagi ketaatan pada zaman itu. Hanya ada satu keluarga yang masih taat kepada Tuhan, yakni Nuh. Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Kej 6:9.

Dalam kisah Nuh ini kita akan menemukan ketaatan yang radikal yang penuh pengorbanan dari seorang manusia biasa. Ketaaatn seperti inilah yang semestinya dimiliki oleh anak anak Tuhan.

Kisah ketaatan Nuh, tidaklah dimulai dari nuh, tetapi dimulai dari Allah. Perhatikan ayat 8, bahwa ditengah tengah jahatnya manusia saat itu, Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Kisah ketaatan Nuh ini dimulai dari Allah. Kemudian setelah itu barulah kisah ketaatan Nuh diceritakan kepada kita. tetapi semuanya dimulai dari Allah

Nuh dikatakan adalah seorang yang benar, dan tidak bercela, hidup bergaul dengan Allah. benar dan tidak bercela bukan berarti Nuh tanpa dosa atau sempurna. ini hanya menunjukkan bahwa Nuh ini adalah spesial, memiliki kekudusan yang berbeda dari orang orang pada zamannya. Namun ada sebuah tema yang terus disampaikan dalam kisah Nuh ini, yakni Nuh menaati Allah. Perhatikanlah kalmait berikut dalam

Gen 6:22 Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.

Gen 7:5 Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya.

Gen 7:9 datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, jantan dan betina, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh.
Gen 7:16 Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh.

Gen 8:15-18 Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: (16) “Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; (17) segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.” (18) Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya.

Nuh memiliki sebuah Motto, lakukanlah perintah Allah. Pernahkah saudara perhatikan, bahwa Nuh tidak pernah berbicara dalam dalam seluruh kisahnya? tidak ada dikatakan: “lalu berkatalah Nuh” Allah yang berbicara, tetapi Nuh tidak bicara dan hanya melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Namun Nuh bukanlah robot, dia adalah daging dan darah dan memiliki masalah real. dia mungkin memiliki pertanyaan atas perntah yang dibeirkan kepadanya, namun dia meresponi dan mennaati perintah Allah. Nuh sempurna dalam ketaatannya kepada Allah, bukan dalam hal pemikiran mengenai ketaatan. Dia bertindak dalam ketaatan dan menaruh imannya ke dalam praktek. Nuh menunjukkan bahwa ketaatan itu membutuhkan sebuah harga. Perhatikanlah ayat 14-16, dimana Allah memberikan detail dari Bahtera yang harus dibangun oleh Nuh.Kapal yang hendak dibangun oleh Nuh lebih kecil sedikit dari kapal Tampomas, KM kambuna. kalau KM Umsini yang panjangnya 144 m. lebar 23 meter. sedangkan Bahtera Nuh Panjang 135 meter , 22.5 meter , Tinggi =13.5 meter Dengan tinggi 13.5 meter tsb menurut Kej 6:16 dibagi 3 tingkap . Ukuran 135 meter itu satu setengah kali lapangan sepakbola. ini merupakan sebuah proyek raksasa. Bayangkan besarnya biaya untuk menaati Allah. Membuat bahtera bukanlah hobbynya Nuh. Itu menghabiskan banyak waktu, uang, energinya dan hidunya. inilah kasih, iman dan ketaatan menjadi satu dalam hidup Nuh.

Kehidupan kristen menuntut harga dari diri saudara. apakah imanmu memiliki pengorbanan? apakah pemberianmu kepada Allah memiliki harga? ataukah hanya sebuah peemberian tanpa pengorbanan? apakah ibadahmu kepada Allah menuntut harga dari saudara? ketika Daud hendak mendirikan mezbah bagi Tuhan, di tempat pengirikan Arauna. dia hendak membeli tanah itu dari arauna. Tetapi Arauna , rakyatnya hendak memberikan tanah itu kepada daud. Tetapi berkatalah raja kepada Arauna: “Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.” Ibadah yang benar pasti ada pengorbanan di dalamnya. Itulah sebabnya kita menjalankan persembahan, karena Tuhan menginginkan ibadah kita memiliki harga.

apapun itu, ketika kita menaati Tuhan, maka itu membutuhkan sebuah harga. Pada saat kita taat kepada Tuhan, kita mesti berani untuk diejek, dicemooh oleh manusia. Ketika Tuhan memberikan perintah kepada Nuh untuk membuat Bahtera, maka ini adalah sebuh proyek yang Monumental, tak terbayangkan, yang tidak bisa dimengerti bahkan mustahil. ini adalah proyek yang luar biasa dan pasti akan menimbulkan tanda tanya. Kalau Nuh membuat bahtera dipinggir laut, maka tidak akan diejek. Karena mereka mungkin akan berpikir bahwa Nuh akan berlayar keliling dunia untuk berdagang. Namun masalahnya adalah, Nuh membuat Bahtera di gunung. Kalau Nuh hanya membuat kapal besar itu untuk pameran saja, maka mungkin tidak akan terlalu dicemooh. Tetapi Nuh membuatnya untuk mengantisipasi datangnya air bah yang akan memusnahkan bumi. Pada waktu itu, orang belum mengenal adanya hujan. Hujan belum pernah turun ke bumi. Air diperoleh dari kabut yang membasahi seluruh permukaan bumi. (Kej 2:5,6). Maka pada waktu Nuh mengatakan bertobatlah dan kembalilah kepada Allah, karena Allah akan memusnahkan bumi ini dnegan air Bah, maka Nuh pasti dicemooh oleh orang orang pada waktu itu. Selama sekitar 100 tahun Nuh membangun Bahtera dan selama itu pula dia diejek, dicemooh karena membangun sebuah proyek Tuhan yang tidak masuk akal untuk mengantisipasi yang tidak masuk akal, yang belum pernah terjadi. Nuh tetap taat walaupun dia diejek, dan dianggap orang gila. Ketaatan membutuhkan harga yang seperti ini.

Menaati Tuhan memang membutuhkan harga atau pengorbanan. pada saat kita diberikan perintah oleh Tuhan, maka itu memerlukan pengorbanan, Mesti ada pengorbanan waktu, pengorbanan tenaga, atau kita mesti bekerja lebih keras lagi. Nuh diberikan perintah untuk membangun sebuah kapal yang luar biasa besarnya. Nuh bukanlah seorang ahli dalam membuat kapal. Nuh juga bukan seorang pengangguran yang tidak punya kerjaan. Nuh punya pekerjaan, punya keluarga. Dan sekarang dia diperintah oleh Allah untuk membangun bahtera sebagai sebuah tugas tambahan diluar tugas tugasnya. ini membutuhkan sebuah pengorbanan. ini artinya, pada waktu dia menaati Allah, maka Nuh memiliki tugas tambahan dalam hidupnya. Tugas tambahan ini bukan berlangsung selama 2 tahun tetapi berlangsung selama 100 tahun. Nuh harus bekerja lebih keras, dia harus bisa membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan membangun bahtera. ada harga dari ketaatannya kepada Tuhan.

Menaati Allah memang membutuhkan pengorbanan. kalau saudara tidak mau berkorban, maka sdr tidak akan bsia menaati Allah. Ketika Allah memanggil saudara untuk melayaniNya, maka itu berarti saudara mesti membayar harga. Mungkin saudara akan lebih lelah, karena ada aktivitas tambahan untuk melayani Tuhan. Misalnya, seseorang yang dipanggil menjadi guru SM. tadinya dia hanya datang ibadah hanya setiap pagi Pkl. 07.30 di gereja. Setelah dia taat menjadi guru sekolah minggu, maka dia harus datang lebih pagi untuk melayani Sekolah Minggu. setelah pelayanan sekolah Minggu, dia mesti ikut kebaktian 2 dan setelah kebaktian 2, dia ada persiapan SM sampai jam 12.00. Inilah harga yang mesti dia bayar ketika dia taat kepada Tuhan. Ada pengorbanan. Tanpa pengorbanan, ketaatan tidak akan jalan. Pada saat saudara dipanggil untuk melayani sebagai aktivis, Majelis, dan saudara taat terhadap panggilan itu, maka itu artinya saudara mesti siap membayar harga atas ketaatan itu. Yang membayar harga bukan hanya saudara tetapi juga keluarga saudara. Bukan hanya Nuh yang mesti membayar harga atas ketaatanNya kepada Tuhan, tetapi istri dan anak anaknya juga mesti menbayar harga. Waktu suami, waktu papa, tersita untuk membangun bahtera. Ejekan juga bukan hanya diterima oleh Nuh, tetapi juga oleh istri dan anak anak Nuh.
Ketaatan saudara adalah ketaatan keluarga. Pada saat suami melayani atau istri taat kepada panggilan Tuhan untuk melayani berarti istri mesti juga membayar harga. Waktu untuk ke Mall bisa berkurang. Kepentingan istri atau suami mungkin mesti dikorbankan. Terkadang, sudah janji mau kemana, tiba tiba ada urusan mendadak di gereja. Berkorban deh…… Namun inilah ketaatan. dalam ketaatan ada pengorbanan.

Ketaatan bukan hanya ada harganya, tetapi juga ada keindahannya setelah kita menaati Allah. ketaatan memberikan kehidupan bukan hanya bagi Nuh, tetapi juga bagi keluarganya. Ketaatan menghasilkan berkat, dan bukan kehancuran. Kalau ada orang yang mengatakan:’ saya menaati Allah untuk itu, saya harus punya 3 istri, karena Tuhan berbicara kepada saya. Ketaatan tidaklah menghasilkan kekacauan seperti itu. Ketaatan akan menghasilkan keindahan. Ketaatan saudara kepada Allah dalam pelayanan, tidak akan membuat rumah tanggamu menjaid kacau dan bercerai. Tuhan akan memberimu hikmat dalam mengatur rumah tanggamu. Ketaatanmu kepada Allah untuk membayar harga yang berapapun besarnya akan membuat saudara diberkati. Ketaatan akan membuat kita semakin mengalami anuegrah ALlah. Kita tahu bahwa Nuh sebelum turunnya air bah dikatakan bahwa dirinya mendapatkan kasih karunia dihadapan Allah. setelah dia menaati perintah Allah membangun bahtera, Nuh terlebih lagi mengalami kasih karunia Allah. Dia mendengarkan sendiri janji anugerah Allah
Gen 9:9-16 (11) Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (12) Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: (13) Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. (14) Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, (15) maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. (16) Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.”

Nuh sendiri mendengarkan dan melihat akan janji anugerah Allah ini. ketaatan akan membawa kita kepada pengenalan yang lebih dalam akan Tuhan. Semakin saudara taat, suadara akan semakin mengenal Tuhan dan merasakan anugerah Tuhan yang besar dalam hidupmu. Pada waktu kita tidak taat, kita mungkin bsia tetap mendapatkan materi, namun bukan kepuasan dan pengenalan akan Tuhan. Ketika seseorang menipu orang lain, dia bisa saja berhasil dan mendapatkan uang yang banyak, tetapi bukan kepuasan dan berkat di dalam Tuhan. Namun tatkala seseorang bekerja jujur dan taat kepada Tuhan, mungkin saja keuntungannya kecil, namun dalam hidupnya ada kepuasan yang tidak bisa dibeli oleh uang yang banyak.

apa yang sdr kejar? uang dan mengorbankan ketaatan? jangan lakukan itu. Uang itu punya sayap. sekali saudara sakit, uang seberapa banyak pun tidak akan bisa membeli hidup apalagi membeli kualitas hidup. Kalau kita melawan manusia dan berusaha taat kepada Allah, maka walaupun manusia tidak membela kita, no problem. tetapi ketika kita menentang Allah dan tidak mau taat kepada Dia, maka walaupun manusia membela kita, tidak ada gunanya, sebab Allah menentang kita. taat kepada Allah hasilnya indah, sebab Tuhan lah yang menjadi pembelamu. namun ketidaktaatan hasilnya adalah buruk.

Tuhan menuntut kita untuk taat kepada perintahNya, untuk meneladaninya, untuk mempercayainya, untuk mencari ia, untuk mengasihi Dia, untuk melayani Dia, untuk takut akan Dia, untuk menhormati Dia. Renungkanlah akan kalimat ini:

Kau sebut Aku Tuhan, tapi tidak menurut perintahKu
Kau sebut Aku Terang, tapi tidak mendekati Aku
Kau sebut Aku Jalan, tapi tidak melewati Aku
Kau sebut Aku hidup, tapi tidak menginginkan Aku
Kau sebut Aku bijaksana, tapi tidak meneladan Aku
Kau sebut Aku berterus terang, tapi tidak mempercayai Aku
Kau sebut Aku kaya, tapi tidak minta kepadaKu
Kau sebut Aku kekal, tapi tidak mencari Aku
Kau sebut Aku lemah lembut, tapi tidak mengasihi Aku
Kau sebut Aku mulia, tapi tidak melayani Aku
Kau sebut Aku maha kuasa, tapi tidak menghormati Aku
Kau sebut Aku adil, tapi tidak takut kepadaKu
Jika Aku menghukum engkau, jangan salahkan Aku!

Kategori:Uncategorized

MELEPASKAN DIRI DARI KEBOHONGAN

Februari 9, 2011 Tinggalkan komentar

Oleh: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh.

Seekor Anjing Untuk Pembohong
Seorang pendeta mendatangi sekumpulan anak-anak kecil yang duduk melingkari seekor anjing lucu. Kemudian si pendeta bertanya pada salah seorang anak:

Pendeta : “Sedang apa kalian?!”

Anak : “Memperhatikan anjing ini.”

Pendeta : “Terus… akan kalian apakan anjingnya?!!”

Anak : “Kami sedang memperebutkannya.”

Pendeta : “Caranya?”

Anak : “Siapa yang paling pintar berbohong… dialah pemenang.”

Pendeta : “Aneh! Dulu… waktu kecil saya tidak pernah berbohong…”

Anak : “Emmm… serahkan anjing itu pada pendeta!!”

Setiap orang pasti pernah berbohong. Mereka yang mengatakan tidak peranh berbohong sedang melakukan kebohongan. Karena setiap orang perrnah berbohong maka mungkin inilah sebabnya berbohong itu sudah dianggap lumrah. Kebohongan dianggap biasa.  Berkata jujur dianggap sudah ketinggalan zaman. Kita menganggap berbohong itu tidak masalah. Apakah betul berbohong tidak masalah? Di dalam Alkitab kita dilarang berbohong. Salah satu larangan dari 10 hukum Allah adalah jangan mengucapkan  saksi dusta (Keluaran 20;16). Orang yang mulutnya serong disebut oleh Alkitab sebagai orang yang tak berguna dan jahat (Amsal 6:12) dan orang yang bercabang lidah akan dikerat (Amsal 10:31). Jadi berbohong adalah sebuah masalah besar. Berbohong merupakan sebuah kejahatan dan kita harus membuangnya.

Bagaimana cara melepaskan diri dari kebohongan?

Pertama, pahamilah apa saja yang termasuk kebohongan.

Jikalau saudara tidak memahami apa saja yang merupakan kebohongan, maka suadara akan berbohong tanpa menyadari bahwa itu bohong. Sehingga walaupun kita sudah bertekad untuk berkata jujur, namun karena kurangnya pemahaman akan defenisi bohong, kita akhirnya jatuh dalam kebohongan jenis yang lain. Apa itu berbohong?

Bohong atau dusta adalah sesuatu yang dikatakan dnegan maksud untuk menipu. Bohong tidaklah selalu dalam arti berkata dusta. Misalnya, kita mengatakan “tidak ada” padahal “ada”. Hal seperti ini memang merupakan kebohongan. tetapi bohong juga bisa dalam bentuk tidak mengatakan kebenaran seperti apa adanya, tidak memenuhi janji. Misalnya, saudara mengatakan :” boleh saya minta waktunya sebentar? “. Betulkan hanya sebentar. Kalau saudara ternyata berbicara dengan dia selama 4 jam, maka saudara sudah berbohong karena apa yang saudara lakukan tidak sesuai dengan apa yang saudara katakan. Atau saudara berjanji:” nanti saya jemput yah? , saya akan mentraktirmu. Padahal kenyataannya saudara tidak berniat untuk menjemputnya atau untuk mentraktirnya.  Jadi berbasa basi itu bukan hanya basi, namun itu juga termasuk kebohongan.

Bohong juga berarti saudara membesar besarkan kebenaran. Pernah enggak saudara menceritakan kesuksesanmu dengan nada yang melebih lebihkan? lebih dari fakta sebenarnya. jika ya, berarti saudara berbohong. walaupun di dalamnya ada kebenaran, tapi kebenaran kitu sudah dipelintir sehingga membuat diri saudara kelihatan lebih hebat dari yang seharusnya. ini termasuk dalam ketagori bohong. Atau pernahkan saudara mengakui kesalahanmu, tetapi apa yang diakui itu lebih kecil daripada yang sebenarnya. ini pun adalah kebohongan karena memberikan kesan bahwa kesalahan itu tidaklah separah yang dibayangkan. Pernah enggak saudara menceritakan perkataan dan tindakan orang lain yang salah tanpa menceritakan konteksnya sehingga membuat orang tersebut terlihat sangat jahat dan kejam?

Kebohongan itu menyembunyikan diri dalam berbagai bentuk. Bohong itu tidaklah abu abu. Hanya ada dua, yakni berkata bohong atau berkata benar. Sedikit berbohong tetap adalah kebohongan.  Bohong adalah sebuah kondisi nyata, tegas. Bohong memiliki garis batas yang jelas antara hitam dan putih. Tidak ada  warna abu abu dalam hal bohong. Ketika saudara berbicara tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, saat itulah anda bohong.

jikalau saudara pernah melakukan hal hal tadi, maka saudara sudah berbohong. Dengan memahami defenisi berbohong, maka kita akan berhati hati pada saat mengucapkan janji, menceritakan kesalahan kita, kesalahan orang lain, atau menceritakan sebuah fakta. Pemahaman apa itu bohong, akan membantu saudara untuk tidak melakukan kebohongan kebohongan tersebut.  Namun pemahaman ini tidak cukup untuk mencegah kita agar jangan berbohong. Saudara perlu tips yang kedua.

Kedua, kurangi berbicara

Cara kedua untuk menghindari kebohongan adalah kurangilah berbicara. Siapa yang banyak bicara, lebih punya potensi banyak berbohong.

Sering dikatakan kalau ibu-ibu jauh lebih banyak berbohong ketimbang bapak-bapak. Saya kira, kalimat seperti ini ada benarnya, karena wanita lebih banyak bicara daripada pria. Namun kalau dihitung tingkat persentasi kebohonggan pria dan wanita sama saja. Misalnya, seorang wanita melakukan ienteraksi sebanyak 10 kali dan berbohong sebanyak 2 kali. Sedangkan pria berinteraksi lebih sedikit, misalnya hanya 5 kali dan berbohong hanya 1 kali. Persentasi kebohongan mereka sama saja. Wanita lebih banyak bohong karena lebih banyak bicara.  Me

nurut Institute of Psychiatry london. Otak seorang wanita dapat menghasilkan 6.000 – 8.000 kata yang dapat diucapkan setiap hari. Bandingkan dengan pria yang hanya 2.000 – 4.000 kata perhari…Luar biasa. Saya mengamininya.

Dengan memperhatikan fakta tadi, maka cara yang tepat untuk mengurangi kebohongan adalah kurangi bicara. Kalau tidak mau berbohong sama sekali, maka janganlah bicara. Anda ingin sedikit berbuat dosa dengan perkataan anda? berbicaralah sedikit. Amsal 10:19 mengatakan :”

Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. Jika seorang wanita melakukan 50 pembicaraan per hari dengan kebohongan sebanyak  5 kali, rmaka persentase kebohongannya adalah 10 persen. Anggaplah ata rata dia berbohong 10 persen dari seluruh pembicaraannya. Seandainya, wanita tersebut mengurangi pembicaraannya menjadi 10 kali pembicaraan saja, maka dia hanya akan berbohong sebanyak 1 kali saja. jika dia ingin berhenti sama sekali berbohong, maka dia hanaya boleh melakukan pembicaraan sebanyak kurang dari 5 kali saja. Mungkin saudara tertawa dengan skenario ini. Namun, inilah yang dikatakan oleh Alkitab, bahwa di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran. Semakin sedikit saya berbicara, semakin jarang pula saya membesar besarkan cerita. Semakin sedikit saya berbicara semakin sedikit perkataan yang saya sesali. Semakin sedikit saya bicara semakin sedikit janji yang tidak dapat saya penuhi. Saya rasa ini juga berlaku untuk saudara. Bill Hybels mengatakan: kita tidak harus berpartisipasi dalam setiap pembicaraan. Kita tidak harus mengungkapkan segala pemikiran yang muncul di benak kkita. Pertimbangkanlah terlebih dahulu segala perkataan saudara sebelum diucapkan.  Inilah nasehat yang diberikan oleh Alkitab dalam Amsal

15:28  Hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat. jika saudara hendak berkata kata tanyakanlah dua pertanyaan ini kepada dirimu sendiri. pertama, apakah kata kata yang akan kita ucapkan itu penting? Kedua, apakah kata kata yang kita ucapkan itu benar? jika tidak benar, maka kita tidak usah mengatakannya.

Suatu pagi, seorang pria mendatangi Sokrates, dan dia
berkata, “Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar
mengenai salah seorang teman Anda?”

“Tunggu sebentar,” jawab socrates. “Sebelum
memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati
sebuah ujian kecil. ujian tersebut dinamakan saringan
tiga kali.”

“Saringan tiga kali?” tanya pria tersebut.

“Betul,” lanjut Socrates. “Sebelum Anda mengatakan
kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan hal
yang bagus bagi kita untuk menyediakan waktu sejenak
dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah
kenapa saya sebut sebagai saringan tiga kali.

“Saringan yang pertama adalah kebenaran. Sudah
pastikah bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya
adalah kepastian kebenaran?”

“Tidak,” kata pria tersebut, “Sesungguhnya saya baru
saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada
Anda”.

“Baiklah,” kata Socrates. “Jadi Anda sungguh tidak
tahu apakah hal itu benar atau tidak. Hmm… sekarang
mari kita coba saringan kedua yaitu kebaikan. Apakah
yang akan Anda katakan kepada saya mengenai teman saya
adalah sesuatu yang baik?”

“Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk”.

“Jadi,” lanjut Socrates, “Anda ingin mengatakan kepada
saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi Anda
tidak yakin kalau itu benar. hmmm… Baiklah Anda
mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu
kegunaan. Apakah yang Anda ingin beritahukan kepada
saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat
saya?”

“Tidak, sungguh tidak,” jawab pria tersebut.

“Kalau begitu,” simpul Socrates, “Jika apa yang Anda
ingin beritahukan kepada saya… tidak benar, tidak
juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa
ingin menceritakan kepada saya?”

sebelum saudara berkata kata, tanyakanlah pertanyaan ini: Pentingkah perkataan saya? benarkah perkataan saya?

ketiga, Biasakan untuk mengatakan  kebenaran.

Cara ketiga untuk melepaskan diri dari KEBOHONGAN adalah dengan membiasakan diri mengatakan kebenaran. C.S lewis mengatakan bahwa dalam dunia ini tidak ada wilayah yang netral.  Setiap sentimeter, setiap detik yang ada adalah milik Allah, jika tidak, maka akan direbut Setan. Kebiasaan berbohong harus diganti dengan kebiasan mengucapkan kebenaran. Jika tidak diganti, maka kita bisa kembali kepada kebiasaan lama. Mengapa harus diganti kebiasaan berbohong itu dengan kebiasaan mengatakan kebenaran? sebab kita tidak berada di wilayah netral dalam dunia ini. Jika kita bukan lagi sebagai hamba setan, maka kita tidak boleh berada di wilayah netral. Kita harus segera pindah ke wilayah positip, yakni menjadi hamba Allah. Karena kalau kita tidak segera pindah ke wilayah positip, menjadi hamba kebenaran, maka kita akan terjerumus lagi menjadi hamba dusta. Pada saat saudara sudah bertekad untuk tidak lagi berbohong, maka jangan berhenti sampai disitu saja. itu tidaklah cukup. Saudara harus bertekad untuk mengatakan kebenaran yang anda ketahui. Rasul paulus mengatakan ini dalam Rom 6:13  Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Mesti ada sebuah posisi yang jelas. Jika sudah bukan lagi hamba dosa, maka harus menjadi hamba kebenaran. Jika dahulu terbiasa berdusta, maka sekarang harus terbiasa berkata benar. Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak.

Kebenaran yang harus dikatakan bukan hanya menyangkut diri kita, tetapi juga kebenaran yang menyangkut orang lain. Jika seorang sahabat atau keluarga kita berada di jalan yang salah, maka kita harus berani berbicara kepadanya tentang kebenaran yang kita ketahui. Seringkali kita enggan mengatakan kebenaran karena itu akan merugikan diri kita. Kita mungkin akan dimusuhi oleh orang yang kita beritahu kebenaran mengenai dirinya. Kita mungkin akan salah dimengerti atau ditolak. Oleh karena kondisi yang tidak mengenakkan ini, maka banyak orang lebih memilih damai daripada mengatakan kebenaran. Namun pada waktu kita berani mengatakan kebenaran, itu artinya kita tidak menjadi senjata  kebenaran. dan ketidakberanian kita mengatakan kebenaran, menunjukkan bahwa suatu waktu ketika kita diperhadapkan antara berkata benar atau berdusta, maka kita juga tidak akan berani untuk berkata benar.

Mengatakan kebenaran kepada orang lain harus diimbangi dengan kebaikan. Kebenaran harus selalu dikombinasikan dengan kasih atau kebaikan. Alkitab mengatakan ini bahwa kita harus menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih, sehingga dalam segala hal kita makin lama makin menjadi sempurna seperti Kristus, yang menjadi kepala kita.Eph 4:15 (BIS).  Dua hal ini, yakni kebenaran dan kebaikan harus selalu bersama sama. Jika salah satunya tidak ada maka ini mematikan. Jika kita menyatakan kebenaran tanpa kasih, maka itu adalah kekejaman. Sebaliknya , jika kita hanya bersikap baik saja kepada orang orang namun tidak pernah menegur, menasehati orang lain mengenai kebenaran yang kita ketahui, maka kasih kita itu belumlah menjadi kasih yang nyata. Jadi nyatakanlah kebenaran di dalam kasih, di dalam kelemahlembutan. Jangan asal menegor orang tanpa ada kelemahlembutan di dalamnya. nasehatilah orang lain, tegorlah kesalahan orang lain, dengan kelemahlembutan ,kesabaran dan dengan kasih.

Kategori:Uncategorized

Hidup bergaul dengan Allah (Kejadian 5: 21-24)

Februari 6, 2011 2 komentar

Kotbah oleh: Pdt. Yohannis Trisfant

Siapa bergaul dengan orang Bijak menjadi Bijak dan sebaliknya

Karena tak mampu berenang, seekor Kalajengking suatu hari meminta kepada seekor Kura-kura
agar memberinya tumpangan di punggung untuk menyeberangi sungai.

“Apa kamu gila?” teriak Kura-kura,

“Kamu akan menyengatku pada saat aku berenang & aku akan tenggelam.”

Kalejengking itu tertawa sambil manjawab,”Kura-kura yg baik, jika aku menyengatmu,

kamu akan tenggelam & aku akan ikut bersamamu.

Kalo begitu, apa gunanya ? Aku tak akan menyengatmu karna ini berarti kematianku sendiri !!”

Untuk beberapa saat, Kura-kura itu berpikir tentang logika dari jawaban tersebut.

Akhirnya dia berkata,”Kamu benar… Naiklah !!”

Kalajengking itu naik ke punggung Kura-kura tadi.

Namun baru setengah jalan, dia menyengat Kura-kura itu dengan sengit.

Sementara Kura-kura mulai tenggelam perlahan-lahan menuju dasar sungai dengan Kalajengking di atas punggungnya,

dia mengerang dengan pedih,”Kamu kan sudah berjanji, tapi sekarang kamu menggigitku !

Mengapa ? Sekarang kita sama-sama celaka.”

Kalajengking yang tenggelam itu menjawab dengan sedih,

“Aku tidak dapat menahan diri. Memang sudah tabiatku untuk menyengat.”

Pesan Moral :

Pelajari karakter seseorang sebelum menjadikannya sebagai Kawan.

Peran yang dia mainkan akan mempengaruhi Kehidupan Anda !!

Pergaulan bisa menentukan masa depan.  Siapa teman bergaul saudara, seperti itulah pola pikir dan aktivitas Anda. Pola pikr dan aktivitas harian Anda itulah yang mencetak masa depan Anda. Benar sekali pesan orang tua kita dulu, “hati-hati kalau bergaul, bergaullah dengan orang baik-baik”. Kalau bisa bergaul lah dengan orang hebat.

memang terkadang sulit bergaul dengan orang hebat, karena orang hebat sudah tidak mau sembarangan bergaul. Tapi ada jalan untuk bergaul dengan orang hebat. caranya adalah bergaulah dengan orang hebat yang sudah mati. Maksudnya : bergaulah dnegan karya-karyanya. John Piper mengatakan bahwa waktu dia kuliah, dosennya menyuruh dia meniru dan mempelajari hidup dan karya salah satu tokoh kristen. sebab dengan melakukan itu, akan mempengaruhi hidupnya. Akhirnya, John Piper mempelajari khusus Jonathan Edwards, dna betul itu mempergaruhi dirinya dan tulisan tulisannya.

Bergaul dengan orang hebat saja sudah demikian luar biasa hasilnya. Apalagi kalau kita bergaul akrab dengan Tuhan.

Hidup bergaul dengan Allah yang juga bisa diterjemahkan berjalan bersama Allah. Bagaimana itu hidup bergaul dengan Allah?

Pertama, Hidup bergaul dengan Allah berarti bersekutu denganNya.

Kalimat ” bergaul akrab dengan Allah, hanya dipakai untuk Henokh dan Nuh (kejadian 6:9). Hal ini menunjuk kepada sebuah hubungan yang sangat

rahasia, sebuah persekutuan yang sangat dekat dengan Allah, berjalan seolah olah disisi Tuhan. Hal ini berarti bahwa Henokh berbincang bincang dengan Allah dan Allah bercakap cakap dengannya.  Hal ini dilakukan setiap hari oleh Henokh. Kata “hidup bergaul” dalam bahasa Ibrani memakai kata halak bentuk hitpael imperfect, makna harfiahnya adalah walk constantly with God atau berjalan dengan Allah terus menerus.
Orang kristen zaman sekarang ini juga hidup bergaul dengan Allah. tetapi ada dua  hal yang kurang, yakni kita hanya berbicara kepada Allah saja dan jarang mendengarkan Allah berbicara kepada kita. Kita hanya mau didengarkan Allah tetapi belum memberikan diri untuk mendengarkan suara Tuhan. kedua, kita berbicara dna mendengarkan suara Tuhan hanya pada waktu saat teduh saja. setelah saat teduh kita sudah tidak lagi bersekutu dengan Dia karena kesibukan kesibukan kita,. Padahal hidup bergaul dengan Allah itu bukan hanya berbicara kepada Allah melainkan mendengarkan Allah berbicara juga kepada kita. Hubungan kita dnegan Allah lebih banyak didominasi oleh ucapan kita kepada Allah.

Kita jarang mau mendengarkan Allah berbicara karena kita. mengapa?  mungkin karena kita sudah kebiasaan hanya mau didengarkan.

Banyak orang bisa “Berkata” namun sedikit yang mau mendengar. Padahal  kita seharusnya lebih banyak mendengar daripada bicara.Bukanlah Tuhan memberi kita dua telinga dan hanya satu mulut. ketika kita masih bayi, indra

pendengaran lebih dulu berfungsi daripada yang lainnya.  Kebiasaan hanya mau didenagrkan kita abwa juga dalam persekutuan kita dengan Tuhan. kibatnya, perjalanan kita bersama Tuhan menjadi pincang karena hanya satu arah. kita banyak salah berdoa, akrena kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa. kita tidak cukup mendengarkan suara Tuhan melalui firmanNya. Karena untuk bisa berdoa dengan benar, maka orang harus lebih dulu mendengarkan Tuhan berbicara melalui firmanNya. maka belaajrlah mendengarkan. Pendoa yang baik adalah pendengar yang baik. Diamlah sejenak dengan membaca dna meenungkan firman Tuhan. Biarkanlah Tuhan berbicara terlebih dahulu kepada sdr melalui firmanNya dan barus etelah itu sdr berbicara kepadaNya dakam doa.

”Siapa yang baik mendengarkannya, dialah yang paling cepat memperoleh manfaat.”Doa yang efektif dan berkuasa itu terjadi kalau kita sudah terlebih dahulu mendengarkan allah berbicara melalui firmanNya. George Mueller, raksasa iman yang hidup di Inggris di tahun 1800an, menulis di akhir hayatnya bahwa hampir 100% dari semua doa yang pernah dipanjatnya kepada Tuhan terjawab. Mueller adalah seorang yang sangat teliti dalam membuat catatan, setiap hal yang ia pinta dari Tuhan akan ia catatkan. Ia mengenal Tuhan selama 69 tahun dan 10 bulan dan dalam jangka waktu itu lebih dari 50,000 doanya yang  terjawab.  Sebelum ia meninggal, ia menulis bahwa hanya satu dari semua doa di sepanjang hidupnya yang belum terjawab. Dan doa itu adalah mengenai seorang yang Mueller doakan agar ia memberikan diri kepada Tuhan, saat Mueller meninggal pada usia 93 tahun, doa ini masih belum dikabulkan. Tetapi setelah kematian Mueller, orang ini akhirnya bertobat dan memberikan diri kepada Kristus. Jadi Mueller meninggal dunia tanpa mengetahui bahwa sebenarnya 1oo% dari semua hal yang pernah ia pinta dari Tuhan telah dikabulkan.  Satu rekod yang saya kira sangat sulit untuk ditandingi.  apa rahasianya sehingga 100 persen doanya dijawab? itu diskarenakan George muller mendegarkrna terlebih dahulu suara Tuhan dengan membaca Alkitab. sebelumnya, dia bangun pagi lansgung berdoa. tetapi kemudan, dia mengubah caranya. Pada pagi hari dia langsung membaca Alkitab, emnedngarkan Tuhan berbicara setelah itu dia berbicara kepoada Tuhan.

HIDUP BERGAUL DENGAN ALLAH berarti berbicang bincang dengan Allah dan mendnegarkan Allah berbicara kepada kita dalam keheningan. Saya yakin kita sering berbicara kepada Allah dalam doa. Satu hal yang kurang dari gereja Injili adalah mendengarkan Tuhan berbicara. Pada saat sdr sudah terbiasa mendengarkan Tuhan berbicara, amka saudara sudah terlibat dalam komunikasi dengan Allah. Saudara sedang bergaul dengan Allah. Hidup bergaul dengan Allah, bukan hanya berbicara kepadanya, tetapi juga mendengarkan Allah berbicara.

Kita mendengarkan ALlah berbicara bukan hanya denga membaca dan merenungkan firman Allag. Mendengarkan Allah berbicara di dalam hati atau pikiran kita juga merupakan bagian dari HIDUP BERGAUL DENGAN ALLAH. Mendengar allah berbicar kepada kita secara prbadi memang lebih sulit dilakukan daripada berbicara kepada  Allah  . Untuk mendengarkan Allah berbicara kepad a jiwa kita, kita mesti beelajar untuk berdiam diri.

Memang lebih sulit untuk berdiam diri dihadapan Allah daripada berbicara kepada Allah. ini merupakan satu seni yang hilang dari kekristenan. Sebuah seni mendenrgakanAllah yang sudah lama diprakttekkan oleh Henokh. Betapapun sibuknya saudara, cobalah berhenti sejenak untuk mendengarkan Allah berbicara kepada jiwamu. Bicaralah juga kepada Allah. Berkomunikasilah dengan Allah. Walaupun kita tidak berbicara secara terdengar, namun di dalam diri kita berlansgung suatu dialog dengan Tuhan. sebenarnya ini mudah diprakttekan dan bisa dipraktekkan, akrena Tuhan Yesus berkata , dombaku mendenegarkan suaraKu. Kalau kita adalah dombanya Krstus, maka kita pasti mengenali suara gembala kita, yakni Kristus Yesus. Yang menjadi persoalan bukannya kita bisa atau tidak mendengarkan suara Tuhan, melainkan, kita tidak mau menengarkan suara Tuhan. Buktinya apa? kita tidak suka dnegan kesunyian. Kita sudah kecanduan suasana ramai kata donald .S. Whitney. Ada orang orang yang otomatis menyetel radio, Tape, TV begitu mereka memasuki sebuah ruangan. Tujuannya adalah sekedar mendengarkan bunyi bunyian. Mereka tidak betah kalau suasana di sekelilingnya sunyi. Lebih gawat lagi, kalau membaca alkitab dan doa  merasa perlu diiringi oleh  musik. Bagaimana bisa mendengarkan suara Tuhan kalau ada musik yang distel, walaupun itu musik rohani. Akibatnya adalah kita jarang memiliki waktu yang tenang untuk jiwa kita mendengarkan Allah berbicara. Kita jarang mendengarkan Allah berbicara dalam kesunyian. Kita tidak memiliki sebuah persekutuan dnegan Allah. Hidup bergaul dengan Allah tidaklah sulit, yang penting kita bersedia memakai setiap kesempatan untuk ngobrol dan mendengarkan Tuhan berbicara. Kita bisa lakukan di kesunyian dan bisa melakukannya di tengah tengah keramaian lalu lintas, atau di hiruk pikuknya suara di sekeliling kita.

Kedua, Hidup bergaul dengan Allah berarti  sejalan dengan Allah.

Hidup bergaul dengan Allah juga bisa diterjemahkan berjalan bersama Allah. Pada waktu berjalan bersama seseorang, maka hal yang paling penting adalah arahnya sama. Kalau arahnya tidak sama, maka kita tidak bisa berjalan bersama. Demikian juga halnya dengan berjalan bersama Tuhan. Berjalan bersama Tuhan berarti sejalan dengan Allah. Kita sedang berjalan di dalam arah yang sama dengan arahnya Tuhan. Jika kita mengatakan bahwa kita berjalan bersama Allah namun tidak sejalan dengan Allah, maka kita sedang jalan sendirian.  Alkitab mengatakan : Henokh berjalan bersama Allah dan bukannya Allah berjalan bersama Henokh. Henokh lah yang harus berjalan sejalan Allah, dan bukannya Allah yang berjalan searah henokh. Hidup bergaul dengan Allah berarti sejalan dengan Allah. Kita pergi kemana Allah pergi, kita melakukan apa yang Allah lakukan . Bukan sebaliknya. Kalau kita tidak pergi kemana Allah pergi dan melakukan apa yang Allah tidak kerjakan, maka kita tidak sedang bergaul dengan Allah. Saya ingin mengingatkan saudara, bahwa Allah itu pergi ke gereja setiap hari minggu, dia ikut persekutuan doa di gereja, dia hadir dalam ibadah ibadah di gereja. Allah juga hadir dalam rapat rapat majelis. saudara tidak bisa mengatakan bahwa saudara hidup bergaul dengan Allah, namun saudara jarang ke gereja. Saudara juga tidak bisa mengatakan saya berjalan bersama Allah, padahal saudara tidak baca alkitab, tidak berdoa, tidak memberi, tidak bersaksi. Berjalan bersama Allah berarti pergi kemana Allah pergi dan melakukan apa yang Allah lakukan. Col 2:6  Saudara-saudara sudah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan. Sebab itu hendaklah kalian hidup bersatu dengan Dia, atau berjalan bersama dia.

Berjalan bersama Allah, berarti tidak berjalan menurut arah dunia. Dunia berjalan di jalan yang berdosa, saya akan berjalan sebaliknya, dijalan yang kudus.  Henokh hidup dalam zaman yang bengkok. Dia hidup pada zaman sebelum air bah memusnahkan bumi. zaman itu adalah zaman yang paling jahat dan rusak yang pernah ada. Di dalam kejadian 3 manusia jatuh dalam dosa. di kejadian 4 , pembunuhan pertama dilakukan. dan dalam kejadian 6 Allah menghancurkan bumi dengan air bah. Di tengah tengah rusaknya kelakukan manusia ini, Henokh hidup berjalan bersama Allah. Dia tidak hidup seturut kelakukan orang orang pada zamannya.

BERJALAN BERSAMA ALLAH berarti tidak berjalan di jalanku sendiri. Esensi daripada dosa adalah mengambil jalan sendiri, seperti yang dikatakan oleh Yesaya Isa 53:6  Kita semua tersesat seperti domba, masing-masing mencari jalannya sendiri. TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita semua. Berjalan bersama Allah menyiratkan kehendak diri yang sudah ditaklukkan kepada Allah.  Allah tidak memaksa seseorang untuk menjadi teman seperjalanan-Nya.  Ia hanya menawarkan kepada kita.  Allah, pertama-tama, ingin agar orang itu datang kepada Dia dengan kerelaan dirinya sendiri.  Iman sejati tidak mungkin ada tanpa kerelaan untuk percaya.  Sama seperti prasyarat dari berjalan bersama Allah adalah Iman, maka prasyarat dari kerelaan hati untuk berjalan dengan Allah ialah: kehendak diri yang sudah ditaklukkan. Bersedia berjalan di jalannya Allah. Kehendak diri yang sudah ditaklukkan tidak lain adalah kepatuhan mutlak kepada jalan atau kehendak Tuhan.  Kepatuhan ini bukan berupa penyerahan diri secara pasif, melainkan suatu kerelaan yang aktif. Penaklukan diri serupa ini disebut sebagai “penaklukkan bebas” (free surrender).

Berjalan bersama Allah berarti tidak berjalan menurut arah dunia dan menurut jalanku sendiri, melainkan berjalan searah dengan Allah. Hal ini membutuhkan penyangkalan diri, dan iman. Karena terkadang kita melihat bahwa jalan menurut dunia ini lebih mudah dan ringan. sedangkan jalannya Tuhan kelihatannya sulit. Kalau berbohong, lebih mudah daripada berbicara jujur. berbuat curang lebih menyelasikan masalah dibangdingkan jujur. Marah , membalas dendam lebih memuaskan dibandingkan mengasihi. Mengejar uang kelihatannya lebih kongkrit dibandingkan mengejar harta yang kekal.Tidak melayani kelihatannya lebih enak daripada melayani. Intinya bahwa berada di jalannya Tuhan itu nampaknya sulit sedangkan berada di jalan dunia ini lebih mudah dan alamiah. Seperti inilah kebohongan yang ditawarkan oleh dosa. Betulkah berbohong itu akan menyeleasikan masalah dengan mudah? berbohogn hanya menyelesikan masalah sesaat saja. betulakan berbuat curang akan menyelesaikan masalah? itu pun hanya sesaat. Tanya saja Gayus yang ditangkap karena korupsi. Betulkan membalas dendam itu lebih memuaskan dibandingkan mengasihi? sama sekali tidak memuaskan. Itu hanya memuaskan dalam tahap khayalan. Kalau sudah dilakukan tidak lagi memauskan, melainkan hanya ada peneyesalan. Betulkah tidak melayani lebih enak? salah. Justru melayani Tuhan lebih memberikan sukacita.

Siapakah yang benar? henokh yang berjalan searah dengan Tuhan ataukah orang orang zaman Henokh yang berjakan berlawanan dengan jalannya Tuhan? Henokh yang lebih bahagia. Mereka semu mati karena dosa dosanya, sedangkan Henokh tidak perlu melalui ngerinya kematian. Henokh mengalami sukacita yang besar, sedangkan orang orang berdosa pada zamannya hanya mengalami kesenangan dan bukan sukacita.

Ketiga, Hidup bergaul dengan Allah berarti menikmati segala kebaikan dan kemurahan Allah

Pada waktu saudara membaca Kejadian 5:1-31, maka saudara akan menemukan 3 kata yang selalu diulang ulang.

Perhatikanlah ayat 5…………lalu ia mati

Perhatikanlah ayat 8,11, 14, 17, 20, 27, 31. Semuanya diakhir dengan 3 kalimat :”lalu ia mati.

Hanya ada satu orang  yang tidak ada “lalu ia mati”, yakni Henokh. Henokh mendapatkan berkat yang luar biasa. Semua keturunan Adam, mengalami akibat dari dosa yakni kematian. Tetapi Henokh tidak mengalami kematian itu. Ia diangkat oleh Allah karena dia bergaul dengan Allah.  Henokh bukan hanya menikmati kebaikan Allah dalam perjalanan hidupnya bersama dengan Allah. Tetapi dia juga mengalami kebaikan Allah itu pada akhir hidupnya. Ada banyak orang mengalami kebaikan Allah dalam hidupnya, tetapi akhir hidupnya sangat tragis.

Pada tahun 1923, sekelompok orang paling sukses bertemu di Hotel Edgewater Beach di Chicago, Amerika Serikat. Secara keseluruhan, kelompok ini menguasai kekayaan lebih banyak dari total perbendaharaan Amerika saat itu. Tahun demi tahun mereka mengukir sukses. Surat kabar dan majalah meliput kisah-kisah keberhasilan mereka.

Delapan orang dari mereka adalah:

1.       “Beruang” investor terbesar di Wall Street.

2.       Presiden dari Bank of International Settlements.

3.       Kepala dari monopoli terbesar dunia

4.       Presiden dari perusahaan baja terbesar dunia

5.       Spekulan gandum terbesar dunia

6.       Presiden dari Bursa Saham New York

7.       Anggota kabinet presiden Amerika

8.       Presiden dari perusahaan gas terbesar dunia

Dari sudut pandang apapun, pria-pria ini telah menanjak ke puncak sukses. Mereka telah menemukan rahasia untuk mendapatkan uang. Mereka mengalami kebaikan Allah dalam perjalanan hidup mereka.

Tetapi, dua puluh tujuh tahun setelah pertemuan di Edgewater Beach itu…

1.       Jesse Livermore, investor terbesar di Wall Street mati bunuh diri

2.       Leon Fraser, presiden the Bank of International Settlements, juga mati bunuh diri

3.       Ivan Kruegar, kepala dari monopoli dunia terbesar, mati bunuh diri

4.       Charles Schwab, presiden dari perusahaan baja terbesar mati dalam keadaan bangkrut, setelah hidup dengan hutang selama lima tahun terakhir sebelum kematiannya

5.       Arthur Cutten, spekulator gandum terbesar, mati di luar negeri dalam keadaan bangkrut

6.       Richard Whitney, presiden The New York Stock Exhange, masuk penjara Sing-Sing

7.       Alber Fall, seorang anggota kabinet presiden, dibebaskan dari penjara agar ia bisa mati di rumah

8.       Presiden dari perusahaan gas terbesar, Howard Hopson menjadi gila.

Akhir hidup mereka semuanya tragis. Apalagi kalau mereka tidak memiliki jaminan keselamatan. Berjalan dengan Allah akan membuat kita mengalami kebaikan dan kemurahan Allah sepanjang hidup kita.  Ini bukan berarti tidak aka nada kesulitan. Kesulitan hidup tetap ada, namun kebaikan dan kemurahan Tuhan yang diberikan jauh lebih besar dariapda kesulitan kesulitan tersebut.

Bahkan keturunan dari orang yang HIDUP BERGAUL DENGAN ALLAH, juga akan diberkati. Henokh melahirkan Metusalah, kemudian metusalah melahirkan Lamekh, lalu kemudian lamekh melahirkan Nuh. Semua anak –anak , cucu dan buyut Henokh tidak mengalami hukuman Allah atas dunia ini melalui air bah. Metusalah anaknya dan lamekh cucunya sudah mati sebelum air bah datang. Sedangkan Nuh dan keluarganya dipilih untuk diselamatkan Allah dari air bah. Sebenanrya penghukuman Allah itu sudah diberitakan sejak zamannya Henokh.  Henokh sudah bernubuat   Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya   hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan.” Jud 1:14-15  . Semua nubuat itu  tergenapi pada zaman buyutnya, yakni Nuh yang dipilih untuk diselamatkan Allah.

Saya rasa, cara paling baik supaya kita memiliki anak anak dan cucu yang takut akan Tuhan, adalah hiduplah bergaul dengan Allah. Sejarah sudha mencatat bahwa orang yang hidup bergaul dengan Allah memiliki keturunan yang diberkati Allah.

Saya akan memberikan kisah dari dua keluarga Amerika kepada Anda, yang mana keduanya hidup pada abad ke delapan belas.

Keluarga pertama adalah keluarga seorang laki-laki yang dipanggil Jukes, yang hidup pada zaman Kebangunan Rohani Pertama, namun tidak terpengaruh oleh peristiwa itu, dan oleh sebab itu, tidak menjadi orang Kristen. Dr. A. T. Pierson berkata,

Ada hasil [riset] yang dilakukan dengan teliti tentang sejarah satu keluarga yang dikenal dengan nama Jukes, dan ini menarik perhatian seperti suatu catatan panjang tentang kemiskinan dan berbagai perbuatan yang memalukan [perbuatan memalukan dan kejahatan], kebebalan dan sakit, prostitusi dan mabuk-mabukan. Total 1,200 keturunan diusut dari sini… dari keluarga ini. Ada 400 dari mereka yang secara fisikal merusak diri sendiri. 310 berprofesi sebagai pengemis. 130 dihukum sebagai kriminal. 60 memiliki kebiasaan mencuri… dan 7 sebagai pembunuh, keseluruhan dari 1,200 [keturunan Jukes] hanya 20 orang yang pernah belajar berdagang, dan separuh dari mereka belajar berdagang pada waktu di penjara (Dr. A. T. Pierson, “The Jukes Family,” quoted in Paul Lee Tan, Encyclopedia of 7,700 Illustrations, Assurance Publishers, 1979, hal. 961).

Keluarga Amerika yang kedua adalah keluarga Jonathan Edwards, seorang pengkhotbah dan teolog besar dari Kebangunan Rohani Pertama, yang adalah anak dari orang tua yang saleh. Ia adalah putra seorang pendeta yang saleh, dan sebelum dia, ayah dari ibunya, Dr. Solomon Stoddard, juga adalah seorang pendeta. Edwards menjadi pendeta pembantu di gereja Dr. Stoddard selama dua tahun sebelum orang tua itu meninggal dunia, dan kemudian ia menggantikan kakeknya itu sebagai pendeta di gereja itu ketika kakeknya meninggal. Ketika kita mengusut sejarah keturunan Jonathan Edwards kita menemukan bahwa 400 dari mereka adalah orang-orang Kristen yang luar biasa. Keturunan Edwards termasuk 14 orang president atau rektor perguruan tinggi dan 100 professor. 100 keturunan yang lain menjadi pelayan Injil, misionaris dan dosen teologia. Lebih dari 100 dari keturunannya menjadi pengacara dan hakim. Juga, di antara keturunan Jonathan Edwards 60 orang menjadi dokter, dan 60 orang lainnya menjadi penulis terkenal, atau para editor majalah terkenal.Sesungguhnya, hampir setiap industri penting telah dimulai oleh satu atau lebih dari keturunan Jonathan Edwards (diringkas dari Paul Lee Tan, Th.D., Encyclopedia of 7,700 Illustrations, Assurance Publishers, 1979, hal. 962).

Dari perbandingan keluarga Jukes, dengan sejarah kebejatan, kejahatan, kemiskinan dan dosa yang sangat mengerikan itu, dan sejarah keluarga Edwards yang saleh dan sukses kita melihat grafik ilustrasi tentang kejahatan yang Mr. Jukes teruskan lintas generasi kepada keturunannya yang bobrok dan menyedihkan, dan orang-orang saleh yang sangat berguna bagi Kristus yang diturunkan dari keturunan Jonathan Edwards.

Kisah mengenai keluarga sdr akan diceritakan di tahun-tahun yang akan datang. Akankah itu adalah hal-hal yang buruk yang akan Anda teruskan kepada anak-anak di masa depan dalam keluarga Anda ? Ataukah sdr akan memiliki keturuanan-keturunan yang saleh, yang dipakai oleh Tuhan pada masa yang akan datang? semuanya dimulai hari ini, yakni apakah sdr menjalani hidup bergaul dengan Allah, berjalan bersama sama dengan Allah seumur hidupmu?

Kategori:Uncategorized

BERBUAT BAIK (AMSAL 11:17)

Februari 2, 2011 Tinggalkan komentar

Kotbah dari Pdt. Yohannis Trisfant, MTh.

Mengapa harus berbuat baik? karena pada saat saudara berbuat baik, maka saudara berbuat baik kepada diri mu sendiri. Amsal 11:17. Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri. bill hybels mengatakan bahwa ini bukan hanya sebagai motivasi berbuat baik melainkan sebuah keuntungan yang tak terelakkan. Suatu hari saya Sedang olahraga jalan kaki dan ada seorang pengemis yang sedang jalan. Pengemis itu tidak meminta kepada saya. Tetapi hati saya tergerak untuk memberikan uang. Kemudian saya berikan kepadanya. Setelah saya memberi, hati saya diliputi perasaan bahagia. perasaan senang karena sudah melakukan kebaikan selalu saya rasakan setiap kali melakukan kebaikan. jadi rupanya melakukan kebaikan itu berdampak kepada diri kita. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Oleh Amsal 11:17 bahwa orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri. Berbuat baik itu adalah suatu keuntungan yang tak terelakkan. Dengan kata lain, saat kita berbuat baik kita merasa baik. Hal ini bukan berarti kita merasa Hebat, puas diri atau membenarkan diri. Namun hal ini berarti kita mengalami kelembutan dan ketenangan dan merendahkan diri dalam kesadaran bahwa kita menjadi penyalur kasih Allah. Mengapa kita merasa sejahtera ketika melakukan kebaikan? Karena kita diciptakan segambar dan serupa Allah yang memiliki sifat yang baik. pada saat kita melakukan kebaikan maka kita sedang berfungsi seperti keinginan Allah. Apakah tujuan Tuhan menciptakan kita didalam Kristus? . tujuan nya yaitu melakukan pekerjaan baik. Karena kita ini buatan Allah, kata Paulus dalam efesus 2:10. diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ayat ini sangat jelas bahwa kita diciptakan untuk berbuat baik. Saat kita melakukan nya maka kita memenuhi tujuan hidup. Pada Waktu kita melakukan kebaikan maka hal itu bukan hanya menjadi berkat bagi orang lain melainkan juga bagi kita. Bagaimana cara nya saya berbuat baik. Pertama:berikanlah kebaikan kepada orang yang berhak menerimanya. Ini terdapat dalam Amsal 3:27 yang berkat:”janganlah menahan Kebaikan dari pada orang yang berhak menerimanya. ” secara implisit ayat ini mengatakan bahwa ada orang yang berhak menerima kebaikan kita dan ada yang tidak berhak menerimanya. Ada orang orang yang tidak berhak menerima kebaikan yakni mereka yang tidak mau bekerja Padahal mereka mampu untuk bekerja. Paulus mengatakan jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan ( 2 Tesalonika 3:6-15 ). jangan membantu orang yang hendak memanfaatkan Kebaikan kita. kita membutuhkan kepekaan dalam hal ini. Kedua, berbuat baiklah kepada orang yang tidak bisa membalasnya. Berbuat baik kepada semua orang memang boleh boleh saja. Namun kita mesti prioritas untuk bebruat baik kepada mereka yang tidak dapat membalas kebaikan kita. Banyak Perbuatan baik yang dilakukan manusia saat iini semata mata untuk menerima balasan. kita sedang berada dalam program tukar menukar kebaikan. Program tukar menukar kebaikan ini bukanlah kebaikan yang sebenarnya. Misalnya, seseroang mengadakan pesta dengan mengundang orang orang hebat, denga motivasi, nanti dia akan mendapatkan kado yang istimewa. Biasanya pesta yang saling menguntungkan ini terjadi terus menerus. memang tidak ada salahnya saling mengundang dalam pesta, tetapi hal ini sedikit hubungannya dengan kebaikan sejati. Tuhan Yesus berkata kepada orang yang mengundang Dia seperti ini:” : “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. (13) Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. (14) Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:12-14). Kita seringkali mengadakan pesta bersama sama dengan teman teman, tetapi alangkah indahnya kalau pesta itu diubah menjadi sebuah pesta kebaikan yang sejati dengan mengundang orang-orang yang tidak bisa membalas mengundang diri kita karena mereka berada dalam kekurangan. Misalnya, pada waktu Ulang Tahun, kita merayakannya bersama sama dengan anak anak panti asuhan atau membagi bagi nasi bungkus kepada pengemis. Kapan saya berbuat baik? Pada waktu ada kesempatan untuk berbuat baik, segeralah lakukan perbuatan baik itu. Jangan menundanya, jangan menahannya. Perhatikanlah sekali lagi Amsal 3 :27 :” janganlah menahan kebaikan dari pada orang -orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. alkitab mengatakan: jangan menahan kebaikan. kita tidak boleh enggan, menunda, merasa malas, mengambil jalan lain ketika ada kesempatan untuk melakukan perbuatan baik di jalan kita. jika kebaikan itu memang harus kita lakukan dan orang itu berhak menerimanya, maka janganlah menundanya. Setiap kali saudara gagal melakukan perbuatan baik yang mampu saudara lakukan maka saudara gagal menangkap sebuah bola yang penting. Dan bola itu tidak akan dilemparkan lagi Sampai batas mana saya berbuat baik. ? Sampai batas kemampuan saudara. Ada saat nya kita tidak mampu melakukan perbuatan baik tertentu, misalnya kurang waktu, kurang keterampilan, kurang dana atau tenaga. Kita tidak perlu menghukum diri sendiri kalau tidak mampu menjadi jawaban dunia ini. Ada sebuah perumpamaan yang menjelaskan akan hal ini yakni kebaikan seorang Samaria. Orang samaria ini menolong orang yang dirampok. dia membersihkan dan membalut luka orang tersebut.,menaikkan orang itu ke atas keledainya.,membawanya ke tempat penginapan, membayar pemilik penginapan tersebut dan berjanji akan kembali dan membayar kekurangan biaya yang diperlukan sampai orang itu sembuh. Kita melihat bahwa meskipun ia Membawa orang yang terluka ini ke penginapan, ia tidaklah membatalkan perjalanannya untuk merawat orang tersebut. Ia tetap melakukan tugasnya yang lain. Ia mempercayakan orang terluka itu kepada penginapan. Ia memfasilitasi orang terluka tersebut. Ia tidak lah seorang diri mengurus orang terluka itu. Beginilah caranya memberikan pertolongan kepada orang lain. Kita melakukan sebatas kemampuan kita.

Kotbah-kotbah dalam Blog ini diambil dari kotbah Yohannis Trisfant, MTh.

CHRISTIAN TOP

FINANCE

Market Neutral

FOREX FACTORY

KESEHATAN ANDA

777 BIBLE

CHRISTIAN WALLPAPER

WALLPAPERS FREE

REVIEWS HEALTH

KOTBAH

MONEY INFO 

Kristen

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.