KEILAHIAN KRISTUS (KOLOSE 1:15-18)

Penulis: Pdt.Yohannis Trisfant, MTh
diterbitkan di Jurnal Pelita Zaman Volume 15 No. 1 Tahun 2000

PENDAHULUAN
Kitab Kolose merupakan suatu dokumen yang mengandung arti yang dalam sekali dan tidak ternilai harganya. Uraian ajaran ini bernada pembelaan karena Paulus bermaksud memerangi ajaran-ajaran mistik dan asketik yang bercorak Yahudi dengan pengertian yang salah tentang alam, penyembahan kepada malaikat-malaikat. Tema pokok Kolose ini adalah kepenuhan dan keutamaan Kristus dan kesempurnaan orang Kristen dalam Dia dibandingkan mistik dan siksaan diri yang diajarkan oleh ilmu filsafat dan hikmat manusia. Ajaran sesat yang mencampurkan teosofi, agama Yahudi dan asketisisme itu nampak bersifat rohani, tetapi pada hakekatnya menjauhkan Kristus dari jabatan-Nya sebagai Tuhan.

Beberapa hal yang dibentangkan dalam Kol 1:15-20 ini yang melukiskan Kristus sejati sebagai Allah adalah: pertama, Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Kedua, sulung dari segala yang diciptakan. Ketiga, di dalam Dialah diciptakan segala sesuatu. Keempat, Dia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu. Kelima, segala sesuatu ada di dalam Dia. Keenam, seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.

Dalam artikel ini, penulis akan mengemukakan beberapa pandangan teolog tentang Kol 1:15-20 ini yang melukiskan Kristus sejati sebagai Allah. Setelah itu, pada bagian akhir dari tulisan ini, penulis akan mengambil suatu kesimpulan tentang pernyataan-pernyataan Paulus dalam Kol 1:15-20 ini sesuai dengan penafsiran dan teolog-teolog tersebut.

KEUNGGULAN KRISTUS DALAM PENCIPTAAN
Keunggulan Kristus dalam penciptaan dapat dilihat dalam dua gagasan kunci (“gambar” dan “yang sulung”) dan dalam suatu pernyataan yang luas mengenai peranan Kristus dalam penciptaan itu sendiri.

Dalam Kol 1:15 istilah “gambar” selain mempunyai arti kesamaan, juga mempunyai arti penjelmaan.1463 Kesamaan yang dimaksud di sini bukan hanya sebuah tiruan atau gambaran, melainkan benar-benar merupakan kesamaan esensi seorang anak yang yang merupakan gambaran dari bapanya atau dengan kata lain Yesus adalah sama seperti Bapa.1464 Hampir sama dengan yang dikatakan oleh Millard J. Ericson. Edwar Scheweizer menjelaskan bahwa “gambar” bukanlah sesuatu yang benar-benar identik di dalam penampakan dari obyek yang di copy, tetapi yang sangat berbeda dari obyek itu seperti sebuah foto sebagai pengganti dari orang yang hidup. Yesus sebagai “gambar” Allah yang tidak kelihatan berarti Dia adalah penyataan Allah atau penjelmaan dari Allah. Kristus secara penuh adalah cermin dari kehendak dan hati Bapa. Semua pekerjaan Allah dalam dunia ini yaitu penciptaan, pemeliharaan, penghakiman dan penebusan adalah melalui Kristus. Dia adalah Allah. Siapa yang telah melihat Dia, telah melihat Allah. Gagasan “gambar Allah” yang tidak kelihatan nampaknya merupakan pemikiran yang mengherankan bila digunakan untuk Kristus, karena di dalam kata “gambar” (eikon) terkandung pengertian “tidak persis sama”. Meskipun demikian, Paulus dengan jelas sedang menegaskan bahwa Kristus adalah penyataan Allah yang sempurna. Allah yang tidak kelihatan dapat dikenal melalui rupaNya yang sempurna di dalam Kristus. Dan karena Kristus adalah penyataan Allah yang sempurna, maka juga menunjukkan pra eksistensi dari Kristus Yesus.

Kata “yang sulung” dari bagian selanjutnya dalam Kol 1:15 ini sepertinya bertentangan dengan istilah “gambar” (yang artinya Yesus adalah Allah), karena pernyataan itu dapat menimbulkan kesan bahwa Kristus adalah anggota pertama dari ciptaan sehingga orang bisa beranggapan bahwa Kristus bukanlah Allah. Sebenarnya kata “yang sulung” ini tidaklah bertentangan dengan istilah “gambar” asalkan kata ini dimengerti dalam arti sebuah perbandingan “lebih dahulu daripada” atau “di depan dari semua”.1469 Ini berarti penekanan keberadaan Kristus yang sudah ada sebelum segala sesuatu ada, suatu hal yang menekankan keberadaan Kristus yang sudah ada sebelum segala sesuatunya ada, suatu hal yang sesuai dengan pekerjaan-Nya sebagai pencipta. Dan ini juga merupakan bukti kekekalan Kristus. Di sini, kekekalan maupun pekerjaan-Nya sebagai pencipta dinyatakan. Dalam itu terdapat dua pernyataan yang menyatakan bahwa Kristus sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan, dan juga bahwa segala sesuatu yang diciptakan itu berasal dari Dia. Jikalau Kristus sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan, maka sudah jelas bahwa Ia sendiri tidaklah berasal dari penciptaan itu. Ajaran tentang kekekalan Kristus ini merupakan doktrin yang sangat penting dalam kristologi. Sebab apabila Kristus tidak kekal, maka Dia adalah suatu ciptaan yang berada dalam waktu dan tidak mempunyai kwalitas. kekekalan serta keabadian yang merupakan ciri-ciri Allah sendiri. Sebaliknya apabila Kristus itu kekal, maka dapat dikatakan bahwa Ia tidak bergantung kepada pihak lain bagi keberadaan-Nya, melainkan ada dengan sendirinya. Istilah “yang sulung” juga dapat dimengerti dalam arti “lebih tinggi” dari segala yang diciptakan (band. Kol 2:17-18). Gagasan kedua ini sangat sesuai dengan arah utama dari Kol 1:15-20 secara keseluruhan, yaitu keberadaan Kristus yang terlebih dahulu ada sebelum segala sesuatu ada. Sehingga dalam hal ini dapat kita katakan bahwa Kristus adalah pencipta dari segala sesuatu yang ada itu. Hal ini juga sesuai dengan kalimat selanjutnya dalam Kol 1:16 yang menyatakan bahwa segala sesuatu telah diciptakan “di dalam Dia” (en auto), “oleh Dia” (di auton) dan “untuk Dia” (eis auton). Sangat jelas bahwa di sini Paulus menempatkan Kristus sebagai pusat dari penciptaan dan Paulus sedang menegaskan keunggulan dari Kristus. Paulus tidak mungkin berkontradiksi dengan dirinya sendiri dalam satu kalimat, karena dalam ay. 16b Paulus menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia; jadi tidak mungkin kalau Paulus bermaksud menyatakan bahwa Yesus adalah bagian dan ciptaan itu.

Kata “yang sulung” mengandung dua arti, yaitu prioritas di dalam waktu dan keunggulan di dalam tempat atau posisi. Kristus berada sebelum ciptaan, Dia memegang secara bersamaan suatu tingkat kedudukan “yang sulung” yaitu suatu tingkat yang berarti keutamaan dan kuasa. Jadi Kristus dinyatakan sebagai yang berkuasa atas alam semesta. Menurut Ladd kata “yang sulung” ini berarti posisi yang berdaulat. Status anak sulung berarti Kristus adalah kepala alas ciptaan atau agen dari ciptaan. AktifitasNya bukan hanya termasuk dunia fisik, tetapi semua hal-hal yang nampak juga.

Istilah yang sulung dalam Perjanjian Baru ini dipakai sebanyak tujuh kali untuk Kristus (baca: Mat 1:25; Luk 2:7; Rm 8:29, Kol 1:15, 18; Ibr 1:6; Why 1:5). Sebagai nama yang menjelaskan tentang Kristus istilah “yang sulung” ini muncul dalam tiga arti yang berlainan: Pertama, sebagai yang sulung di antara banyak saudara (Rm 8:29). sebagai yang sulung dari segala yang diciptakan (Kol 1:15). Nama ini jelas dipakai untuk menyatakan keberadaan kekal dari Kristus dan membantu menguatkan doktrin peranakan yang kekal.

Kedua, sebagai anak yang sulung dari Maria (Mat 1:25; Luk 2:7). Gelar ini diberikan kepada Kristus sebagai putra pertama Maria. Ini dengan jelas dipakai untuk menunjukkan pribadi-Nya yang berinkarnasi. Sebagai anak sulung Mana. Kristus tidak hanya pertama dalam waktu-Nya, tetapi juga dalam tingkat dan kedudukan. Menurut hukum, yang sulung menerima warisan dua kali lipat dan dianggap sebagai keturunan utama dari ayahnya.

Ketiga, penggunaan ketiga terdapat dalam uraian tentang Kristus sebagai “yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati” (Kol 1:18) dan “yang pertama bangkit dari antara orang mati” (Why 1:18). Di sini artinya ialah bahwa Kristus adalah yang pertama dibangkitkan dari antara orang mati dalam kebangkitan. Memang ada beberapa “kebangkitan dari antara orang mati” seperti dalam kasus Lazarus, tetapi tak seorangpun sebelumnya menerima hidup kebangkitan dan tubuh kebangkitan yang kekal (tidak mati lagi). Kristuslah yang pertama menerima ini. Sehingga dalam hal ini juga membuktikan akan keilahian Yesus dan lebih menguatkan tafsiran “yang sulung” dalam Kol 1:15. Dan dalam hubungan dengan Kol 1:15, Alford menulis: “Oleh karena itu metode yang aman untuk menafsirkan ini ialah, memperhitungkan dua gagasan yang terkandung dalam kata (yang sulung), dan di sini dibedakan antara prioritas dan martabat, juga memperhatikan segi teknis dari kata ini (prototokos) yang dipergunakan dalam hubungan dengan kedua gagasan itu, daripada penyusunan ketat dimana istilah itu berdiri. Maka “yang sulung dari segala yang diciptakan” akan berarti bahwa Kristus tidak hanya yang sulung dari ibu-Nya di dunia, tetapi juga yang sulung dari Bapa-Nya, sebelum dunia ada dan bila dibandingkan dengan setiap barang ciptaan, Dia mempunyai kedudukan yang sulung di dalam kemuliaan. Konsep mengenai keutamaan dalam hal waktu juga dipergunakan oleh Alford untuk menguatkan gagasan bahwa Maria juga melahirkan anak-anak lain sesudah Kristus. Mengenai istilah “yang sulung lebih utama dari segala yang diciptakan” pandangan Arian dan Socinian mengatakan bahwa hal ini berarti Kristus adalah makhluk yang pertama diciptakan dari semua ciptaan, jadi tidak kekal. Dalam bukunya, Hodge menolak pandangan ini dan menyatakan bahwa Kristus ada sebelum penciptaan atau Kristus berasal dari kekekalan. Aspek kedudukan ini, yang diambil dari ide bahwa yang sulung mendapat tempat lebih penting daripada anak-anak lainnya, menghasilkan ide tentang kedaulatan Kristus atau otoritas dan kecenderungan mendukung keilahian Kristus.

KRISTUS SEBAGAI PENCIPTA
Ajaran tentang penciptaan ex nihilo sebagai tindakan Allah menurut kehendak-Nya sendiri pada umumnya telah diterima sebagai ajaran dalam sejarah gereja Kristen. Doktrin ini menentang teori-teori kuno tentang kekekalan zat dan teori yang mengatakan bahwa unsur-unsur dari zat-zat memancar keluar dari Allah dan karena itu merupakan zat Allah juga. Doktrin ini juga menentang teori-teori modern tentang evolusi sebagai proses penciptaan. Jikalau filsafat tidak dapat memberi jawab dalam analisis akhir, maka tidak bisa memecahkan masalah mengenai benar atau salahnya doktrin penciptaan ini. Ini adalah sebuah ajaran yang hanya dapat dikenal melalui penyataan penciptaan sendiri. Mengenai penciptaan, Kitab Suci memberikan kesaksian secukupnya bagi semua orang yang bersedia menerimanya. Dari Kejadian sampai Wahyu, alam semesta ini dikatakan sebagai yang diciptakan oleh Allah.

Penciptaan biasanya dianggap sebagai pekerjaan Bapa, dan bukan Anak dan Roh Kudus. Bagaimanapun juga. Alkitab menunjukkan bahwa pekerjaan penciptaan adalah karya dari ketiga pribadi dalam Tritunggal. Penggunaan kata Elohim dari Jehovah bagi Allah Tritunggal memberikan pernyataan yang terang dalam hal ini. Bahkan dalam Perjanjian Lama pun, Elohim adalah yang menciptakan (Kej 1), dan dalam Kej 1:2 Roh Allah berbuat secara aktif. Roh Kudus disebut beberapa kali dalam Perjanjian Lama sebagai pencipta (Ay 26:13; 33:4; Mzm 104:30; Yes 40:12-13). Bapa juga disebut secara khusus dalam Perjanjian Baru (1 Kor 8:6). Maka dapat diharapkan bahwa suatu pernyataan yang sama akan diberikan mengenai Anak Allah (Yesus Kristus).

Anak Allah dinyatakan sebagai Firman Allah yang kekal, tentang Dia dikatakan “segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Dalam 1 Kor 8:6 pernyataan yang sama juga diberikan. “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja. yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Pernyataan yang lengkap bahwa Anak Allah sebagai pencipta terdapat dalam Kol 1:15-17 yang sedang dibahas dalam artikel ini “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Banyak usaha dilakukan untuk menguraikan ayat ini menjadi ajaran yang menolak bahwa Anak Allah adalah pencipta. Di sini kita dapat melihat dengan jelas bahwa tak ada satu nama orang ataupun malaikat yang dapat dipakai untuk menggantikan kata “Dia”. Kata “Dia” ini hanya pantas diberikan kepada Tuhan Yesus Kristus. Pekerjaan yang dinyatakan di sini adalah pekerjaan Allah. Tidak ada alasan untuk membenarkan tafsiran kaum Unitarian yang menjadikan Kristus semata-mata suatu perwujudan Allah. Ayat-ayat dalam Kolose ini membedakan Anak Allah dari pribadi-pribadi lainnya dan Tritunggal dan sekaligus menghubungkan bahwa terdapat suatu perbedaan di dalam bentuk pekerjaan mereka: “All things are at once out of the Father, Through the Son and in the Holy Spirit.; In general it may be said that being is out of the Father, thought or the idea out of the Son, and life out of the Holy Spirit”.

Pentingnya karya penciptaan bagi Kristus adalah bahwa hal itu menyatakan kekekalan, kuasa, hikmat, dan kemahahadiranNya. Sebagai pencipta, Dia terutama ada sebelum segala sesuatu ada (Kol 1:17), dan karena itu Dia adalah kekal.

PEKERJAAN KRISTUS YANG TERUS MENERUS DALAM PENCIPTAAN

Pokok pikiran selanjutnya (Kol 1:17-18a) masih penciptaan, tetapi suatu pemikiran baru diperkenalkan yakni bahwa segala sesuatu ada di dalam Dia (sunesteken), yaitu Kristus. Alam semesta bukan hanya diciptakan di dalam Anak sebagai lingkungan, oleh Dia sebagai agen ilahi, dan untuk Dia sebagai tujuan; tetapi juga bahwa alam semesta dibuat secara tetap “di dalam Dia” sendiri. Ini adalah sebagai penegasan yang kedua, “di dalam Dia segala sesuatu dipelihara bersama-sama”. Dia memelihara keserasian, kehidupan, dan ketertibannya. Dia juga memeliharanya dari kehancuran. Dia adalah penopang dari alam semesta dan menyatakan prinsip-prinsip kehidupan dari alam ini. Bila terpisah dari aktifitasNya sebagai penopang, maka semua akan hancur. Alam semesta tidak akan berfungsi, jika tidak berada di dalam Dia.1488 Gagasan mengenai Kristus yang mempertalikan segala sesuatu dalam alam semesta memang menonjol, dan hal ini terdapat juga dalam Ibr 1:3, yang berkata bahwa segala sesuatu ditopang oleh kuasa-Nya. Adanya pernyataan ini, mengakibatkan semua pikiran mengenai Kristus sebagai pencipta yang tidak hadir atau yang tidak menaruh perhatian pada ciptaan-Nya. harus dibuang! Lagi pula pernyataan ini sama sekali bertentangan dengan pendapat bahwa kuasa roh-roh jahat menguasai dunia, yang mungkin diajarkan oleh guru-guru palsu di Kolose. Jadi jelaslah bahwa Paulus berani menegaskan bahwa keilahian Kristus alas penciptaan. yang diperlihatkan tidak hanya pada karya-karya masa lampau yang telah selesai. tetapi juga dalam pekerjaan-Nya sekarang sebagai pemegang kedaulatan.1489 Anak Allah memang secara aktif dan istimewa mengambil bagian dalam pemeliharaan ciptaan Allah. Pembahasan dalam Kolose ini sejalan dengan Perjanjian Lama yang menggambarkan Kristus sebagai pemelihara ciptaan-Nya. Hal ini dapat dilihat dalam pekerjaan Malaikat Jehovah yang merupakan bukti penting bahwa Anak Allah memelihara dan memimpin umat Israel, penunjukkan kepada Jehovah sebagai Gembala Israel dapat diambil sebagai penunjuk khusus kepada Kristus (band. Kej 49:24; Mzm 23:1; 80:1 Yes 40:1; Yer 31:10; Yeh 34:11-12, 23; 37:24). Walau secara konteks ayat-ayat ini dapat menunjuk kepada Allah sebagai Tritunggal namun fakta bahwa Kristus secara istimewa adalah Gembala yang baik, dalam Yoh. 10 dapat membenarkan hal ini.1490 Sebagai Gembala yang baik, Dia mati bagi domba-domba-Nya sebagaimana dinubuatkan dalam Mzm 22: sebagai Gembala agung (Ibr 13:20). Dia menggenapkan Mzm 23: sebagai Gembala besar (1 Pet 5:4). Dia akan kembali untuk memerintah sebagai Raja kemuliaan (Mzm 24). Kemudian dalam Yes 53 juga menunjukkan pekerjaan pengambilan tindakan Allah dan pemeliharaan-Nya dalam Perjanjian Lama. Pembahasan dalam Kolose ini yang menyatakan Kristus sebagai pemelihara juga diperkuat dalam Ibr 1:3. “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan”. Dengan kata lain bahwa alam semesta ini ditopang oleh firman kuasa Anak Allah.

Kristus adalah pencipta, pemelihara, tetapi juga menjadi sasaran dari penciptaan, yaitu segala sesuatu diciptakan untuk DiriNya.

KRISTUS SEBAGAI KEPENUHAN ALLAH

Dalam bagian terakhir dari perikop ini, pernyataan Paulus mencapai puncaknya dalam pernyataannya mengenai Kristus: “Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia”. Petunjuk utama mengenai anti dan “kepenuhan” (pleroma) terdapat dalam Kol 2:9 yang di dalam Allah ada di dalam Kristus. Pernyataan ini melebihi pernyataan yang luar biasa yang ada dalam Kol 1:15, karena pernyataan “seluruh kepenuhan Allah” mencakup lebih banyak hal daripada pernyataan “gambar Allah”. Dengan adanya pernyataan ini, maka seluruh pandangan yang menyangkal keilahian Kristus harus dibuang. Perkataan pleroma yang dipakai oleh Paulus bukanlah sebagai hasil pemikiran, tetapi sebagai hasil pengalaman sendiri mengenai Yesus Kristus.1493 Teologia Paulus ini paling banyak dipengaruhi oleh pengalamannya pada jalan ke Damsyik dan oleh iman dalam Kristus yang bangkit, dimana teologia ini terus bertumbuh melalui pengalamannya. Paulus sendiri membicarakan pengalamannya sebagai wahyu Anak Allah kepadanya (Gal 1:16). Di dalam wahyu itu, Paulus melihat Yesus Tuhan (1 Kor 9:1; 15:8; 2 Kor 4:6; Kis 9:5).1494 Ayat 19 ini ditafsirkan oleh Peter T. O’Brien bahwa Yesus adalah “tempat” dimana dalam Dia, Allah dan seluruh kepenuhan-Nya berkenan untuk mengambil tempat kediaman-Nya. Semua atribut dan aktifitas Allah yaitu Roh. firman, hikmat, dan kemuliaan-Nya secara sempurna diperlihatkan di dalam Kristus.

Eduard Schwezer mengatakan bahwa ide itu adalah benar-benar merupakan pengagungan Kristus yang telah bangkit dari kematian sebagai peristiwa di dalam kepenuhan dari kuasa Allah yang berdiam di dalam YesusNya.

Menurut Charles R. Erdman. kata “kepenuhan” menunjukkan jumlah total dari kuasa dan atribut Allah. Sedang kata “berdiam” bukan menunjukkan jangka waktu yang sementara, tetapi menunjukkan berdiam dengan tetap. Di dalam Kristus ditaruh selama-lamanya semua kemuliaan, kasih, hikmat, dan kekekalan Allah.”

KESIMPULAN
Setelah mengetengahkan beberapa pandangan dari beberapa teolog mengenai Kol 1:15-20, khususnya ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Kristus, kita dapat melihat bahwa Yesus merupakan penyataan Allah yang sempurna dan Dia sudah ada sebelum segala sesuatu ada: Paulus juga menyamakan pekerjaan Kristus dalam penciptaan dengan pekerjaan Allah. Kristus bukan hanya pencipta, tetapi juga pemelihara. Dan titik puncak pernyataan, Paulus adalah segala sesuatu yang ada dalam Allah yaitu kekuasaan-Nya, hikmat-Nya, kasih-Nya, kekekalanNya, kemuliaanNya, dan semua atribut-atribut Allah, ada di dalam Yesus Kristus.

Dari wahyu yang diberikan kepada Paulus dan penjelasan oleh para teolog di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Yesus adalah Allah sejati.

Kategori:Uncategorized

BAHAYA HIPNOTIS

Juli 15, 2011 7 komentar

Penulis: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

Sumber: www.kotbah.org

Trend baru zaman ini.
Pada zaman yang penuh dengan tekanan dan ketegangan ini, banyak orang mencari berbagai macam cara untuk mengatasi tekanan dan ketegangan mereka. Ketika muncul sebuah cara yang mengklaim sebagai cara aman, maka cara tersebut akan diserbu oleh masyarakat, termasuk orang-orang Kristen. Salah satu hal yang dianggap sebagai solusi masalah hidup adalah hipnotis. Hipnotis, saat ini menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup orang kota. Para ahli hipnotis sendiri mengklaim bahwa hipnotis dapat menolong mereka yang ingin kurus, yang ingin berhenti merokok, yang depresi, yang terikat oleh narkoba. Hipnotis juga dipakai untuk menghilangkan rasa takut, membangkitkan rasa percaya diri. Jangankan orang awam, beberapa dokter gigi juga memakai hipnotis agar supaya pasien tenang menjalani pengobatan gigi.
Hipnotis dianggap sebagai cara yang aman dan ilmiah dalam menolong masalah-masalah hidup manusia, karena hipnotis memakai teknik sugesti. Pasien akan disugesti dan dibawa dalam keadaan tidur hipnosa. Dalam kondisi ini, pasien akan diberikan sugesti-sugesti untuk mengatasi persoalan mereka. Misalnya mereka akan disugesti bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan, atau disugesti bahwa mereka tidak suka makan banyak. Setelah sugesti itu, pasien tidak akan menyukai rokok dan tidak suka makan banyak. Ini akan menolong pasien untuk berhenti merokok dan menjalani diet agar kurus. Hipnotis juga dapat dipelajari secara pribadi dengan melatih konsentrasi dan sugesti diri, untuk meningkatkan kepercayaan diri, mengatasi rasa takut dan mengatasi persoalan-persoalan dosa yang mengikat manusia.
Banyak orang Kristen yang juga ikut-ikutan mempelajari hipnotis dan memberikan diri dihipnotis untuk mengatasi persoalan-persoalan mereka. Ada juga yang masih ragu-ragu, apakah boleh dihipnotis dan mempelajari hipnotis untuk mengatasi persoalan kita?

Bahaya Hipnotis
Walaupun ahli hipnotis membungkus hipnotis sebagai sesuatu yang ilmiah, namun hipnotis bertentangan dengan iman Kristen. Hipnotis bertentangan dengan iman Kristen karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kristiani dalam mengatasi persoalan dan karena hipnotis mengandung bahaya-bahaya. Ada beberapa bahaya mempelajari hipnotis maupun dihipnotis.
1. Hipnotis dapat membuka pikiran untuk mempercayai apa saja, termasuk dusta. Seorang yang terhipnotis dapat disugestikan sebuah kebohongan dan dia akan memegang kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran. Sugesti yang diberikan bukanlah kebenaran atau fakta mengenai keadaan pasien. Pasien yang memang suka rokok disugesti bahwa dirinya tidak suka rokok. Pasien yang memang penakut disugesti bahwa dirinya berani. Akhirnya dalam pikiran pasien terdapat fantasi hasil sugesti dan setelah dihipnotis, pasien tidak bisa membedakan antara fantasi dengan kenyataan.
2. Hipnotis adalah usaha untuk menguasai diri melalui sugesti, baik itu oleh orang lain maupun oleh diri kita. Sebuah usaha yang berada di luar karya Roh Kudus. Padahal penguasaan diri adalah karya Roh Kudus di dalam diri orang percaya (Gal 5:22-23). Ketika kita mengikuti pimpinan Roh Kudus, Dia akan memberikan kita kuasa untuk mengontrol diri kita. Dosa diatasi dengan menyerahkan diri kepada Allah dan bukan dengan menyerahkan diri kepada ahli hipnotis atau menyerahkan diri kepada diri sendiri. (Yak 4:6,7; 1 Kor 6:9-12;Roma 6:12-12). Sebagai orang percaya , fokus kita adalah kepada Kristus, dan bukan kepada diri kita sendiri atau kepada hal-hal lain (Ibr 12:2). Jawaban persoalan kita bukan di dalam diri kita, melainkan di dalam Kristus (Matius 11:28)

3. Hipnotis membuka “ pintu hati” atau “pintu pikiran“ kita kepada serangan kuasa kegelapan. Dalam hipnotis, bukan hanya ahli hipnotis yang akan mengubah sikap dan tingkah laku kita, tetapi iblis pun mau juga merubah diri kita sesuai dengan keinginannya. Dengan memberikan diri dihipnotis, maka kita berada dalam keadaan emosi yang tidak stabil, tidak aman dan akan memberikan kesempatan kepada Iblis untuk menguasai diri kita. Hipnotis memberikan kemungkinan kepada kerasukan setan.

4. Hipnotis bukanlah sains, tetapi merupakan bagian integral dari okultisme selama ribuan tahun. Banyak teknik yang digunakan dalam hipnotis mirip dengan sistem mistik dan okultisme. Profesor Psikiater, Thomas Szasz mengatakan bahwa hipnotis adalah “ilmu pengetahuan gadungan” . Yoga, Zen dan metode penyembuhan timur di dalam banyak aspek memiliki kesamaan mendasar dengan hipnotis. Dan hal yang perlu diketahui mengenai Yoga adalah, tujuan utamanya adalah kesatuan dengan Allah. Kesatuan ini dicapai bukan melalui Kristus melainkan melalui meditasi.

5. Hipnotis adalah pelanggaran terhadap hak Allah. Tidak seorang pun yang memiliki hak untuk menguasai pikiran dan kehendak seseorang. Hanya Allah dan orang itu sendiri yang memiliki hak untuk menguasai piikiran dan kehendaknya. Praktek hipnotis merupakan pelanggaran etika Kristen.

Akhir dari tulisan ini adalah pertimbangkanlah nasehat Petrus:”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1Pe 5:8).

KEPUSTAKAAN

Brown, David L. The Dangers of Hypnosis, mengutip dari Many Lives, Many Loves by Gina Cerminara;WmMorrow and Company, 1963.
Kroger, William and Fezler, William. Hypnosis and Behavior Modification:Imagery Conditioning. Philadelphia: J. B. Lippincott Co., 1976.

Martin and Bobgan Deidre, Hypnosis: Medical, Scientific, or Occultic? California:EastGate Publishers

Szasz, Thomas. The Myth of Psychotherapy. Garden City: Anchor Press/Doubleday, 1978.

W. Provonsha, Jack Mind Manipulation: A Christian Ethical Analysis. Online Ethics Library: http://www.ilu.edu/ilu/bioethics

PENULIS
Yohannis Trisfant, MTh.
Saat ini melayani di GKIm Amanat Kristus, BANDUNG

Kategori:Kotbah Tag:

Bahaya Hipnotis

Juli 14, 2011 16 komentar

Penulis: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh
Trend baru zaman ini.
Pada zaman yang penuh dengan tekanan dan ketegangan ini, banyak orang mencari berbagai macam cara untuk mengatasi tekanan dan ketegangan mereka. Ketika muncul sebuah cara yang mengklaim sebagai cara aman, maka cara tersebut akan diserbu oleh masyarakat, termasuk orang-orang Kristen. Salah satu hal yang dianggap sebagai solusi masalah hidup adalah hipnotis. Hipnotis, saat ini menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup orang kota. Para ahli hipnotis sendiri mengklaim bahwa hipnotis dapat menolong mereka yang ingin kurus, yang ingin berhenti merokok, yang depresi, yang terikat oleh narkoba. Hipnotis juga dipakai untuk menghilangkan rasa takut, membangkitkan rasa percaya diri. Jangankan orang awam, beberapa dokter gigi juga memakai hipnotis agar supaya pasien tenang menjalani pengobatan gigi.
Hipnotis dianggap sebagai cara yang aman dan ilmiah dalam menolong masalah-masalah hidup manusia, karena hipnotis memakai teknik sugesti. Pasien akan disugesti dan dibawa dalam keadaan tidur hipnosa. Dalam kondisi ini, pasien akan diberikan sugesti-sugesti untuk mengatasi persoalan mereka. Misalnya mereka akan disugesti bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan, atau disugesti bahwa mereka tidak suka makan banyak. Setelah sugesti itu, pasien tidak akan menyukai rokok dan tidak suka makan banyak. Ini akan menolong pasien untuk berhenti merokok dan menjalani diet agar kurus. Hipnotis juga dapat dipelajari secara pribadi dengan melatih konsentrasi dan sugesti diri, untuk meningkatkan kepercayaan diri, mengatasi rasa takut dan mengatasi persoalan-persoalan dosa yang mengikat manusia.
Banyak orang Kristen yang juga ikut-ikutan mempelajari hipnotis dan memberikan diri dihipnotis untuk mengatasi persoalan-persoalan mereka. Ada juga yang masih ragu-ragu, apakah boleh dihipnotis dan mempelajari hipnotis untuk mengatasi persoalan kita?

Bahaya Hipnotis
Walaupun ahli hipnotis membungkus hipnotis sebagai sesuatu yang ilmiah, namun hipnotis bertentangan dengan iman Kristen. Hipnotis bertentangan dengan iman Kristen karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kristiani dalam mengatasi persoalan dan karena hipnotis mengandung bahaya-bahaya. Ada beberapa bahaya mempelajari hipnotis maupun dihipnotis.
1. Hipnotis dapat membuka pikiran untuk mempercayai apa saja, termasuk dusta. Seorang yang terhipnotis dapat disugestikan sebuah kebohongan dan dia akan memegang kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran. Sugesti yang diberikan bukanlah kebenaran atau fakta mengenai keadaan pasien. Pasien yang memang suka rokok disugesti bahwa dirinya tidak suka rokok. Pasien yang memang penakut disugesti bahwa dirinya berani. Akhirnya dalam pikiran pasien terdapat fantasi hasil sugesti dan setelah dihipnotis, pasien tidak bisa membedakan antara fantasi dengan kenyataan.
2. Hipnotis adalah usaha untuk menguasai diri melalui sugesti, baik itu oleh orang lain maupun oleh diri kita. Sebuah usaha yang berada di luar karya Roh Kudus. Padahal penguasaan diri adalah karya Roh Kudus di dalam diri orang percaya (Gal 5:22-23). Ketika kita mengikuti pimpinan Roh Kudus, Dia akan memberikan kita kuasa untuk mengontrol diri kita. Dosa diatasi dengan menyerahkan diri kepada Allah dan bukan dengan menyerahkan diri kepada ahli hipnotis atau menyerahkan diri kepada diri sendiri. (Yak 4:6,7; 1 Kor 6:9-12; Roma 6:12-12). Sebagai orang percaya , fokus kita adalah kepada Kristus, dan bukan kepada diri kita sendiri atau kepada hal-hal lain (Ibr 12:2). Jawaban persoalan kita bukan di dalam diri kita, melainkan di dalam Kristus (Matius 11:28)

3. Hipnotis membuka “ pintu hati” atau “pintu pikiran“ kita kepada serangan kuasa kegelapan. Dalam hipnotis, bukan hanya ahli hipnotis yang akan mengubah sikap dan tingkah laku kita, tetapi iblis pun mau juga merubah diri kita sesuai dengan keinginannya. Dengan memberikan diri dihipnotis, maka kita berada dalam keadaan emosi yang tidak stabil, tidak aman dan akan memberikan kesempatan kepada Iblis untuk menguasai diri kita. Hipnotis memberikan kemungkinan kepada kerasukan setan.

4. Hipnotis bukanlah sains, tetapi merupakan bagian integral dari okultisme selama ribuan tahun. Banyak teknik yang digunakan dalam hipnotis mirip dengan sistem mistik dan okultisme. Profesor Psikiater, Thomas Szasz mengatakan bahwa hipnotis adalah “ilmu pengetahuan gadungan” . Yoga, Zen dan metode penyembuhan timur di dalam banyak aspek memiliki kesamaan mendasar dengan hipnotis. Dan hal yang perlu diketahui mengenai Yoga adalah, tujuan utamanya adalah kesatuan dengan Allah. Kesatuan ini dicapai bukan melalui Kristus melainkan melalui meditasi.

5. Hipnotis adalah pelanggaran terhadap hak Allah. Tidak seorang pun yang memiliki hak untuk menguasai pikiran dan kehendak seseorang. Hanya Allah dan orang itu sendiri yang memiliki hak untuk menguasai piikiran dan kehendaknya. Praktek hipnotis merupakan pelanggaran etika Kristen.

Akhir dari tulisan ini adalah pertimbangkanlah nasehat Petrus:”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1Pe 5:8).

KEPUSTAKAAN

Brown, David L. The Dangers of Hypnosis, mengutip dari Many Lives, Many Loves by Gina Cerminara; Wm Morrow and Company, 1963.
Kroger, William and Fezler, William. Hypnosis and Behavior Modification:Imagery Conditioning. Philadelphia: J. B. Lippincott Co., 1976.

Martin and Bobgan Deidre, Hypnosis: Medical, Scientific, or Occultic? California:EastGate Publishers

Szasz, Thomas. The Myth of Psychotherapy. Garden City: Anchor Press/Doubleday, 1978.

W. Provonsha, Jack Mind Manipulation: A Christian Ethical Analysis. Online Ethics Library: http://www.ilu.edu/ilu/bioethics

PENULIS
Yohannis Trisfant, MTh.
Saat ini melayani di GKIm Amanat Kristus, BANDUNG

Kategori:Uncategorized

Bagaimana mengatasi sebuah krisis (Kis 27: 1:44)

badai kehidupan tidaklah pandang bulu. orang kristen juga harus menghadapi badai kehidupan. Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang masuk ke dalam badai kehidupan

A. Tuntunan yang salah dari para ahli
Perwira kapal lebih mendengarkan nasehat jurumudi dan nahkoda yang ahli daripada perkataan Paulus. (27:11).

Saat ini ada banyak gagasan mengenai hidup. Mereka yang memberikan gagasan-gagasan itu adalah ahli-ahli. Ada ahli pernikahan, ahli kesehatan, ahli spiritual, dll. Contohnya, soal tidak makan daging. mengapa seseorang tidak makan daging? agama? kesehatan? katanya ajaran kristen. kej 1:29. bdk kej 9:3. Suatu waktu bisa masuk dalam sebuah krisis, yakni menganggap orang lain sadis, dirinya suci, hati nuraniya terganggu kalau makan dagng. contoh lain mendidik anak. anak tdk boleh dipukul. Akhirnya suatu waktu anaknya jadi pemberontak dan sudah sulit diatur. pada waktu remaja, dia mau pukul, sudah terlambat. Padahal alkitab mengajarkan untuk mendidik dengan rotan. Amsal 23:13-14. Kita mesti hati hati dengan saran dan nasehat para ahli. Cobalah pikirkan dasar Alkitab dari saran mereka. Saran ahli biasanya membuat kita masuk dalam masalah.

B. Mengikuti suara mayoritas
Perhatikan ayat 12, dimana kebanyakan dari mereka lebih setuju untuk berlayar terus. Mayoritas itu seringkali salah. Ingatlah pada waktu Musa pertama kali memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Mayoritas bangsa Israel ingin kembali ke Mesir. Kita juga dapat membawa diri kita ke dalam kekacauan kalau kita selalu mengikuti suara mayoritas. Suara mayoritas belum tentu benar. Hati-hatilah dengan suara mayoritas.

C. Mengikuti tuntunan keadaan
Baca ayat 13.ketika angin sepoi-sepoi mulai bertiup dari selatan, mereka mengira maksud mereka sudah tercapai, maka mereka pun membongkar sauh dan berlayar…..
Bagaimana keadaannya? Sepoi-sepoi. Keadaan kelihatan mendukung. Para pelaut mengira tujuan mereka akan tercapai kareena keadaan sudah mendukung. Segala sesuatu mungkin Nampak bagus tetapi mungkin saja anda sedang berlayar menuju badai. Kalau Allah mengatakan:”jangan”. Walaupun keadaan sangat memungkinkan, janganlah lakukan itu. Iblis bisa saja memakai keadaan baik untuk membawa kita ke dalam masalah.
HAL-HAL KELIRU YANG SERING DILAKUKAN DALAM KRISIS
Pertama, Membiarkan diri diombang ambingkan

Ayat 15. Para pelaut membiarkan kapal kami terombang ambing. Kalau sdr sedang memiliki persoalan, apakah yang biasa sdr lakukan? Seringkali kita membiarkan diri terombang ambing oleh persoalan-persoalan itu. Persoalan-persoalan itu menghantam kita kesana sini. Kita ebrkata :’ buat apa melawan, apa gunanya, biarkan saja mengalir. Kita lupa dengan nilai-nilai yang kita pegang dan hanya terombang ambing. Kita melepaskan sasaran-sasaran kita

Kedua, Hal keliru yang kedua yang kita lakukan adalah membuang hal-hal penting dalam hidup kita (27: 18-19)
Sama halnya ketika krisis datang, maka kita pun mulai membuang berbagai hal dalam hidup kita. Para pelaut membuang muatan, lalu alat alat kapal, lalu gandum (28) dan akhirnya mereka membuang diri emreka sendiri (43-44).

Dalam menghadapi sebuah krisis hal apakah yang sdr biasa buang?
• Nilai-nilai kebenaran yang kita pegang selama ini, kita menghalalkan segala macam cara,
• kita membuang visi dan mimpi-mimpi kita alias tidak lagi dilanjutkan),
• kita membuang hubungan-hubungan kita. Biasanya dalam bentuk merusak hubungan dengan pasangan, dengan keluarga, dengan teman. Keluarga diabaikan. Dan akhirnya kita buang diri kita ke tali gantungan, alias bunuh diri.

Ketiga, putus asa.
Hal keliru ketiga yang kita lakukan adalah putus asa (27:20). Dalam krisis yang berat, pada akhirnya kita sampai kepada titik putus asa dan kehilangan harapan. Para pelaut berada dalam kegelapan total selama empat belas hari, dalam sebuah kapal kecil di tengah laut Mediterania, dihempaskan kian kemari oleh badai sampai mereka membuang segala sesuatu dan menjadi putus harapan. Inilah yang dialami jika berada dalam keadaan sulit untuk jangka waktu lama. MAsalah itu sudah menghembas kita kesana kemari dan sekarang sampai ke titik putus asa: apa gunanya? Tidak ada harapan. Ini mustahil diperbaiki. Para pelaut ini putus harapan karena mereka lupa bahwa Allah memegang kendali. Mereka lupa bahwa Allah punya sebuah rencana. Mereka lupa bahwa Allah sanggup menyuntikkan pengharapan ke dalam sebuah situasi yang sudah tidak berpengharapan lagi.
REAKSI YANG SEHARUSNYA KITA MILIKI

Pertama, tenang dan percaya.
Paulus tidaklah gentar, tidak kecil hati. Ia memiliki keberanian dalam krisis ini. Reaksi pelaut yang putus asa, kecil hati memang adalah respon alamiah kita dalam menghadapi sebuah krisis. Tetapi seharusnya tidak boleh demikian. Semua orang dapat menjadi orang Kristen kalau semuanya berjalan lancar, bila semua doa dikabulkan dan bila kita berada dalam keadaan sehat, bila pendapatan meningkat. Mudah menjadi orang Kristen pada saat-saat seperti itu. Namun ketika ujian iman datang, kita biasanya tergoda untuk putus asa, terombang ambing dan membuang hal hal penting dalam kehidupan. Karakter itu bukan dibuat saat krisis. Karakter terbentuk dari hari ke hari, lewat perkara-perkara biasa dalam kehidupan. Karakter terungkap dalam sebuah krisis. Karakter tersingkap saat kapal dihantam badai dan ada situasi mengancam kita.

Dalam keadaan krisis, karakter kita akan Nampak, apakah kita kacau, panic? Ataukan kita tetap tenang? Baca Mzm 125:1

Kedua, hadirat Allah
Baca kis 27:23. Badai tidak akan pernah menyembunyikan diri kita dari Allah. Wajah Allah memang tidak kita lihat, namun Allah melihat diri kita. Mungkin kita mengira Dia sangat jauh, namun sesungguhnya Dia sedang mengamati diri kita dan beserta kita. Dalam badai yang dialami oleh paulus, Allah mengutus seorang malaikat datang kepada Paulus. Ingatlah janji Allah, br 13:5 Matius 28:20.
Ketiga, Tujuan Allah.
Kisah 27:24. Apakah maksud kalimat ini jika dihubungkan dengan badai yang sedang dialami. Seolah –olah Allah mengatakan seperti ini. Aku memiliki rencana dalam hidupmu, rencanaKu adalah supaya engkau pergi ke Roma. Engkau berada dalam kapal ini dalam rangka mencapai tujuanku agarengkau memberitakan Injil di istana kaisar. Krisis ini tidak akan menghalangi tujuanKu.

Allah memiliki tujuan dalam hidup kita masing-masing. Tidak ada orang yang dilahirkan krena kebetulan. Badai hanyalah penghalang sementara di dalam perjalanan kita mencapai tujuan Allah. Contohnya Naomi. Anak laki-lakinya meninggal dan hanya menantu perempuannya ruth yang ikut bersama sama dia kembali ke Israel. Tetapi melalui Ruth inilah dilahirkan kakenya Daud, ayahnya Daud dan daud.

Jadi tidak ada suatupun yang bisa mengubah tujuan utama Allah dalam hidup kita. Tujuan Allah lebih besar dari situasi apapun yang kita alami. Allah memiliki rencnana yang melampaui persoalan-persoalan yang sdr hadapi sekarang ini. Janganlah berfokus pada masalah, tetapi fokuslah kepada tujuan hidup sdr.

salam
Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

Kategori:Uncategorized

MENGALAHKAN HAWA NAFSU

Hawa nafsu bukanlah masalah sepele

Banyak orang menganggap remeh hawa nafsu. Mereka beranggapan bahwa hawa nafsu seksual adalah wilayah pribadi. Yang penting adalah saya tidak merugikan orang lain. Apalagi kalau saya juga melakukan aktivitas social, di masyarakat di gereja, maka urusan hawa nafsu adalah masalah kecil. Bagi mereka, melihat gambar gambar porno di internet, atau di majalah Playboy adalah sepele, tidak sepenting urusan saya di kampus atau di gereja atau di kantor. Bagaimana dengan hubungan seks bebas? Ada juga yang beranggapan, bahwa itu pun bukan masalah. Yang penting di dalamnya tidak ada pemaksaan, suka sama suka, dan saling menyenangkan satu sama lain. Bagaimana pendapat saudara?
Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa hawa nafsu termasuk dosa seksual bukanlah masalah sepele. Bacalah Matius 5: 28-29. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (29) Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Bukanlah Nampak dari ayat ini bahwa dosa hawa nafsu bukanlah masalah sepele. Itu adalah masalah serius yang harus dihadapi dengan keras. Mengapa bisa sangat serius? Karena dampaknya sangatlah serius bagi diri kita. Kalau saudara tidak berjuang dalam studimu atau pekerjaanmu, apakah dampaknya? Dampaknya hanyalah tidak lulus, tidak mendapatkan kebutuhan kebutuhan hidupmu. Hidupmu hanya akan susah di dunia ini. Sebaliknya, kalau kalau saudara tidak berjuang melawan hawa nafsu? Maka dampaknya bukan hanya tidak lulus, tidak mendapatkan uang, tetapi saudara akan dilemparkan ke dalam neraka. Dampak buruk kalau kita tidak berjuang untuk hidup kita adalah kita tidak dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan dan keinginan keinginan kita. Namun dampak buruk dari tidak berjuang melaawan hawa nafsu adalah berdampak kekal, yakni jiwamu akan binasa. John Piper mengatakan bahwa penghakiman terakhir allah jauh lebih menakutkan daripada pembinasaan duniawi. Resiko dari hawa nafsu ini jauh lebih besar daripada bom atom, daripada AIDS, daripada perang. Hawa nafsu, seperti percabulan, kenajisan, nafsu jahat dan juga keserakahan , semuanya itu mendatangkan murka Allah.(Kolose 3:5-6). Murka Allah ini jauh lebih menakutkan daripada murka manusia. Karena mereka yang melakukan percabulan, kecemaran dan hawa nafsu tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah. (Galatia 5:21).

Hawa nafsu dan keselamatan kekal

Tuhan Yesus memakai ancaman neraka untuk menunjukkan betapa seriusnya dosa hawa nafsu karena doa ini akan menyebabkan seseorang dilemparkan ke dalam neraka. Lalu kita mungkin bertanya, bagaimana dengan orang Kristen? Apakah kita akan kehilangan keselamatan? Apakah jika orang Kristen melakukan dosa hawa nafsu, dia akan masuk ke neraka? Ada banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa dosa hawa nafsu yang mereka lakukan tidaklah berhubungan dengan keselamatan kekal mereka. Mereka beranggapan bahwa kalau saya sudah percaya kepada Kristus, maka walaupun saya melakukan dosa hawa nafsu maka saya pasti tetap masuk sorga dan ancaman Tuhan Yesus yang akan melemparkan pezinah dalam neraka, tidaklah berlaku untuk saya. Betulkah pandangan seperti ini?

Apakah maksud perkataan Tuhan Yesus ini? Apakah maksudnya bahwa jika seseorang jatuh ke dalam dosa hawa nafsu maka orang itu tidak akan masuk sorga. Yang Tuhan Yesus maksudkan disini bukanlah soal jatuh ke dalam dosa hawa nafsu. Yang Tuhan Yesus maksudkan adalah jika anda tidak berjuang melawan dosa hawa nafsu maka saudara akan dilemparkan ke dalam neraka. Jika saudara tidak memerangi dosa seksual maka saudara tidak akan masuk ke dalam sorga. Pada saat kita berperang melawan dosa, bukan berarti bahwa kita selalu akan berhasll dalam peperangan itu. Kita bisa saja kalah dna gagal. Namun intinya adalah saya berniat memerangi dosa itu. Hati saya sudah memutuskan untuk berperang melawan segala dosa hawa nafsu. Inilah tanda dari orang Kristen yang sudah diselamatkan.

Orang Kristen yang sudah diselamatkan tidak akan kehilangan keselamatannya. Tuhan Yesus mengatakana “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yohanes 10:28). Semua orang yang telah dibenarkan, pasti akan dimuliakan (roma 8:30). Artinya, adalah tidak ada orang yang dibenarkan akan terhilang. Namun kita mesti ingat bahwa ada ayat ayat alkitab yang mengatakan bahwa mereka yang melakukan dosa percabulan akan terhilang (Galatia 5:21; mereka yang tidak mengejar kekudusan tidak akan melihat Tuhan ( Ibrani 12:14), dan mereka yang menyerahkan diri kepada keinginan keinginan jahat akan menerima murka Allah ( Kolose 3:6). Apakah kedua bagian Alkitab ini bertentangan? Bagian yang satu mengatakan tidak akan kehilangan keselamatan, sedangkan yang laun mengatakan bahwa mereka yang tidak mengejar kekudusan akan binasa? Sebenarnya kedua bagian alkitab itu tidaklah bertentangan. Seseorang yang memiliki iman yang sejati, pasti akan dikuduskan oleh iman itu. Iman yang menyelamatkan pasti akan menghasilkan sebuah pengudusan. Iman yang menyelamatkan dari neraka pasti akan menyelamatkan juga dari ahwa nafsu. Ini bukan berarti bahwa hidup kita akan tanpa cacat dan tanpa dosa. Iman yang sejati pasti akan menghasilkan sebuah perlawanan yang tekun terhadap dosa. Iman yang sejati tidak akan menyerah terhadap dosa. Iman yang sejati akan berperang melawan hawa nafsunya. Orang yang punya iman sejati tidak akan berdiam diri dan menyerah saja terhadap hawa nafsu. PAda saat Tuhan Yesus mengatakan “jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. (30) Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. Mat 5:29-30 . Apakah maksud perkataan Tuhan Yesus ini? Maksudnya adalah dosa itu harus dihadapi dengana keras. Kita mesti melawan dosa. Kita tidaklah menyerahkan diri kepada dosa, tetapi melawannya.

Bagaimana melawan hawa nafsu

Hawa nafsu dilawan dengan iman. Perjuangan kita melawan hawa nafsu adalah perjuangan melawan ketidakpercayaan. Pada saat pencobaan datang menyerang saudara, maka yang diserang adalah ketidakpercayaan kepada Allah. Misalnya, pada saat hawa nafsu seksual mencobai saudara. Suatu gambaran seksual muncul dibenakmu dan saudara dibujuk untuk percaya bahwa dosa seksual itu akan membuatmu lebih bahagia daripada taat kepada Tuhan. Pencobaan untuk berbuat dosa lebih banyak bersifat bujukan dna bukan paksaan. Tidak ada orang yang berdosa karena kewajiban. Kita berbuat dosa karena berpikir bahwa perbuatan itu membuat kita senang dan bahagia di dalam jangka pendek. Nah, dari sinilah kita menghadapi dosa itu. Orang bijaksana mengatakan, dimana saudara jatuh maka disitulah saudara harus berdiri. Kita jatuh ke dalam dosa pada saat kita percaya bahwa perbuata itu membuat kita bahagia. Oleh karena itu, kita memsti menangani dosa dari titik ini. Pada saat kita dicobai untuk berbuat dosa dan dosa dibungkus dengan sangat manis , maka kita mesti menghadapinya dengan iman bahwa saya akan lebih bahagia dan sukakcita kalau taat kepada Allah. Pakailah firman Allah untuk melawan pencobaan yang membujuk kita itu. Mazmur 16:11 menuliskan abwha dihadiratMu ada sukacita yang melimpah dan ditangan kananMu ada nikmati senantiasa. Percayalah firman Tuhan yang mengatakan bahwa jika saya memikirkan hal hal yang baik dna murni maka damai sejahtera Allah akan menyertai saya (Filip 4:8-9) Api kesenangan hawa nafsu harus dilawan dengan api kesenangan akan Allah. Jika kita mencoba melawan hawa nafsu dengan ancaman ancaman maka biasanya kita gagal. Kita harus melawannya dengan suatu janji firman Tuhan bahwa bersama Tuhan akan membuat kita lelbih bahagia daripada melakukan dosa hawa nafsu.

Kategori:Uncategorized

Di Bumi seperti Di Surga (matius 6:10)

Juni 11, 2011 2 komentar

Mengapa Tuhan Yesus menyambung kalimat: “jadilah kehendakMu” dengan kalimat “di bumi seperti di surga?” Jadilah kehendakMu, di bumi seperti di surga. Ini berarti kehendak Tuhan jadi di bumi ini seperti kehendak Tuhan jadi di surga. KehendakNya akan terjadi baik di bumi maupun di surga. KehendakNya bukan hanya jadi di surga saja, melainkan juga di bumi ini. apakah ada kerajaan atau negara yang bisa seperti ini? dimana kehendak dari negaranya bisa semua jadi di negara lain? Kehendak negara Amerika tidak bisa semuanya jadi di negara lain. Mungkin ada yang bisa jadi di negara lain, tetapi itu melalui proses negosiasi dan tidak semua kehendak negara ini bisa jadi di negara lain. Berbeda dengan kerajaan sorga, dimana kehendak dari Raja segala raja bisa jadi di bumi ini.

Oleh karena itu, maka ketika doa ini dipanjatkan kepada Bapa di sorga, maka ada dua makna yang terkandung di dalamnya

Pertama, doa ini memberikan kita pengharapan

kita memiliki pengharapan bahwa kehendak Allah akan terjadi bukan hanya di sorga melainkan juga di bumi. Walaupun saat ini kita melihat adanya kekacauan, kejahatan dalam dunai ini, tetapi kiita punya pengharapan bahwa kehendak Allah untuk kebaikan bagia anak anakNya pasti akan terjadi ditengah tengah segala kekacauan dan kejahatan di bumi ini. Sebelum Kristus datang ke dalam dunia ini, Allah sudah menubatkan bahwa kelak, Juruselamat akan datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia. Kehendak Allah yang di sorga ini dinyatakan kepada manusia melakuai [ara nabi. Allah mulai bekerja untuk menggenapkan rencana ini dengan memilih Abraham untuk menjadi nenek moyang dari Kristus. Allah kemudian mendirikan Israel, dimana melalui bangsa ini, Mesias akan dilahirkan. Namun kita tahu bahwa dunia yang jahat, kuasa kegelapan berusaha menghancurkan bangsa ini dengan berbagai macam cara. Bahkan sampai ketika Kristus lahir pun, dunia ini masih mengancamnya yakni Herodes ingin membunuhNya. Namun semua kekuatan kekuatan jahat itu tidak sanggup mencegah kehendak sorga terjad di bumi ini. Akhirnya, Kristus lahir dan menyelesaikan pekerjaan penebusan bagi umat manusia. setelah itu Injil harus di beritakan dan ini merupakan kehendak sorga, dimana Kristus memberikan perintah, pergilah jadikan semua bansga menjadi muridKu dan Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Injil mulai disebarkan di Yerusalem, Yudea, samaria samai ke eropah dan seluruh dunia. Apakah mudah dan tanpa darah? sulit dan banyak darah kaum martir yang tertumpah. Namun kehendak Allah yang di sorga tetap terlaksana, Tidak ada satu pun kuasa yang bisa menghalangi orang orang untuk bertobat. Tidak ada satu pun kuasa yang bsia mencegah kuasa Tuhan untuk mempertobatkan seseorang. Walaupun ada banyak tekanan, keraguan, namun kalau Tuhan sudah memilihnya, maka kehendak Tuhan pasti terjadi atas diri orang tersebut. Oleh sebab itu, jika sekarang kita sedang melakukan kehendak Tuhan, dan ada begitu banyak tantangan, maka kita tidak perlu kecil hati, karena dalam doa Bapa kami ini terdapat sebuah pengharapan bahwa kehendak Allah di sorga akan terjadi juga di bumi.

Dikusi:

1. Menurut saudara, apakah kehendak Tuhan yang dituliskan di Alkitab mengenai dunia ini?
1 Timotius 2:4 hal ini mendorong kita untuk rajin memberitakan Injil
Yohanes 10:28 Hal ini akan menolong kota untuk terus berjuang dalam kehidupan kristen kita karena kita yakin bahwa kita kelak pasti dimuliakan.
2 Petrus 3:9,10

2. Sharingkan, Kehendak Tuhan untuk diri saudara yang saudara mengerti saat ini. apakah saudara punya pengharapan bahwa kehendak itu apsti terjadi?

Kedua, doa ini membangkitkan pujian kepada Allah

Pada saat kita mengatakan jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga, maka ini adalah sebuah bentuk pujian kepada Allah. soerang raja yang kehendaknya bisa jadi negara lain, maka itu berarti raja tersebut mulia. Oleh sebab itu, doa ketika kita mengatakan jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga, maka itu merupakan kalimat pujian kepada kebesaran dan kuasa Bapa kita di sorga. Pujian diletakkan di tengah tengah doa.Pujian menjadi puase antara 3 permintaan pertama (dikuduskanlah namaMua, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu) dengan 3 permintaan kedua (berikanlah makanan , ampunila kami dan janganlah bawa kami ke dalam pecobaan). Pujian kepada Allah akan menyegarkan doa kita. cobalah praktekkan di tengah doa doa saudara naikkanlah pujian dalam perkataan dan nyanyian.

Kategori:Uncategorized

JADILAH KEHENDAKMU (MATIUS 6:10)

Setiap kalimat-kalimat dalam doa Bapa Kami merefleksikan keinginan Allah bagaimana seharusnya kita hidup. Setiap kali saudara mengucapkan doa Bapa Kami, maka ini harus menjadi tekad kita untuk melakukannya dan menghidupinya. Pada saat saudara mengatakan “dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu, maka tambahkanlah kata-kata ini dalam pikiranmu :” di dalam dan melalui diriku”. Dikuduskanlah namaMu di dalam ku dan melalui diriku. Datanglah kerajaanMu di dalamku dan melalui diriku. Dan pada saat kita mengatakan :” jadilah kehendakMu, itu berarti saya akan belajar untuk taat kepada Tuhan”.
Tujuan berdoa menjadi jelas dalam doa Bapa Kami, yakni bukan membuat Allah melakukan kehendakku, seperti praktek praktek magis, melainkan membawa kehendakku ke dalam kehendakNya.
Bukan Kehendakku
Bila kita mengerti kalimat:’jadilah kehendakMu” itu artinya, saya bersedia menyangkal diri dan tetap setia dalam menghadapi perlawanan dari kuasa jahat. Saya tidak dapat mengatakan :’ jadilah kehendakMu” tanpa bersedia menyangkal diri, karena ketika kita berada dalam pekerjaan maka kita biasanya menemukan bahwa yang kita ingin lakukan adalah kehendak kita dan bukan kehendak Bapa. Berdoa “jadilah kehendakMu, secara tidak langsung saya bersedia menyangkal diri, mengatakan “tidak” terhadap kehendakku dan “ya” terhadap kehendak Tuhan. Maksud dari jadilah kehendakMu, adalah benar benar kehendak Tuhan yang saya inginkan terjadi dan saya akan lakukan. Seringkali yang kita inginkan adalah kehendak Tuhan yang sesuai dengan kehendak kita, bukan kehendak Tuhan yang murni yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita. Belajarlah berdoa seperti Tuhan Yesus di taman Getsemani yang mengatakan : janganlah kehendakKu yang jadi melainkan kehendakMu lah yang jadi. (Matius 26:39, 42). Doa seperti ini membutuhkan harga, pengorbanan, penyangkalan diri.
Jadilah kehendakMu, juga berarti saya akan tetap setia kepada Allah dalam menghadapi semua kuasa kuasa jahat dalam dunia ini, dimana setan adalah penguasa dunia. (Yoh 14:30). Martin Luther menjelaskan “jadilah kehendakMu seperti ini :” Jadilah KehendakMu, ya Bapa dan bukan kehendak dari Iblis, atau kehendak dari orang orang yang hendak menghancurkan firman Tuhan atau yang hendak menghalangi datangnya kerajaan Allah. Dan anugerahkanlah kepada kami kekuatan untuk bisa bertahan dan kedagingan kami tidak menyerah , tidak malas dan tidak lemah. Ketika saudara berdoa :’ jadilah kehendakMu, ini berarti saudara tidak akan menyerah sampai kehendak Allah terjadi dalam hidupmu dan pelayananmu. Berdoalah selelau akan hal ini, karena kita lemah. Kelemahan kita tidak akan menghalangi terjadinya kehendak Allah dalam hidup kita. Kehendak Allah itu mulia dan indah dalam hidup kita. Namun kita ini lemah dan tidak berdaya dalam mewujudkan terjadinya kehendak Allah dalam hidup kita. Oleh sebab itu kita mesti selalu berdoa agar kehendak Allah jadi dalam hidup kita.
DISKUSI:
1. selama ini, ketika berdoa “jadilah kehendakMu”, apakah yang saudara maksudkan seperti yang sudah dijelaskan di atas? Jika ya, berikanlah contohnya
2. Jika bukan seperti yang dimaksud diatas, seperti apakah yang saudara maksudkan ketika berdoa : “jadilah kehendakMu?”
Menerima kehendak Allah.
Kehendak Allah itu terbagi atas dua: pertama, adalah kehendakNya dalam setiap peristiwa yang terjadi dan kedua, kehendakNya yang ada dalam Alkitab. Pada saat kita berdoa “jadilah kehendakMu” berarti kita menerima setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita tanpa komplain kepada Allah. Pada saat kita mengalami hal yang baik dan buruk, menyenangkan, menyedihkan, kita menerima semua itu sebagai kehendak Allah yang terjadi dalam hidup kita dengan senang hati dan rendah hati. (Roma 8:28, Kejadian 50:20). Pada saat kita berdoa “jadilah kehendakMu” itu artnya, kita menerima jika Allah tidak memberikan apa yang kita minta dan harapkan. Seperti inikah yang saudara pikirkan ketika berdoa “jadilah kehendakMu”? Jadilah kehendakMu, berarti kehendak Tuhan berada di atas kehendakku. Jadilah kehendakMu berarti kehendakku yang ikut kehendak Tuhan dan bukan sebaliknya, kehendak Tuhan yang mengiikuti kehendakku.

Jadilah kehendakMu, juga berarti saya meminta Allah untuk mengajarkan kepada saya apa yang seharusnya saya lakukan dan saya berkehendak untuk melakukan nya. Dapatkan anda berdoa seperti ini dari hati anda?
Menemukan kehendak Allah
Namun bagaimana saya bisa mengetahui apa yang Allah ingikan untuk saya lakukan? dengan memberikan perhatian terhadap firman Tuhan, memperhatikan suara hati nurani kita, memperhatikan keadaan yang diizinkan oleh Allah dan dengan mencari nasehat dari orang lain yang mengenal Tuhan. Memang masalah mengerti kehendak Tuhan selalu menjadi pergumulan dari setiap orang kristen. Untuk memahami apa yang dilarang Tuhan, tidaklah sulit karena sudah jelas tercantum dalam Alkitab. Tetapi untuk memahami kehendak Tuhan dalam memilih apa yang merupakan kehendak Tuhan diantara yang baik, ini sangat sulit. Namun jika kita mau mencari kehendak Allah, kita pasti akan menemukan kehendak Allah itu. Yesaya 30:21. Jika kita tidaklah jelas dengan kehendak Allah, maka tunggulah, jikalau masih ada waktu. Jangan mengambil keputusan Tetapi jika sudah tidak ada waktu, buatlah keputusan yang terbaik, dan Allah akan menolong saudara mengerti jika saudara salah jalan.
Perjanjian dengan Allah
Jadilah kehendakMu, bukan hanya sekedar kata kata doa saja, namun ini merupakan komitmen kita untuk taat dengan sukacita kepada Tuhan dan melakukan dengan setia kehendakNya.
Buatlah sebuah komitment untuk taat sepenuhnya kepada Tuhan. Komitment bahwa diri kita bukan lagi milik kita tetapi milik Tuhan. Bersedia menderita jika itu kehendak Tuhan, Bersedia bekerja untuk Tuhan, hidup bagi Tuhan
Diskusi
Dalam hal apakah anda masih sulit untuk taat kepada Tuhan?
Menurut saudara, dalam hal apakah rekan rekan KTB mu masih kurang dalam ketaatannya kepada Tuhan. Ungkapkanlah jika anda tahu dan bagaimana menolongnya untuk bisa taat sehingga mereka pun bukan hanya dapat mengatakan jadilah kehendakMu, tetapi juga mau menaati kehendak Tuhan.

Kategori:Uncategorized